4. Margaret Thatcher

Sosok perempuan yang mengubah wajah politik modern Inggris. Margaret adalah Perdana Menteri perempuan dan terpanjang Inggris. Ialah perempuan yang dikenal sebagai perempuan besi, alias “Iron Lady" karena dikenal memiliki opini-opini kuat, peraturan ketat, dan kepemimpinan yang tegas. Terjun ke dunia politik saat masih jadi mahasiswi di Universitas Oxford sebagai presiden Conservative Association.
Margaret membuat sejarah pada tahun 1975 ketika dia menjadi pemimpin Partai Konservatif , salah satu dari dua partai politik utama di Inggris. Empat tahun kemudian berhasil jadi Perdana Menteri wanita Inggris pertama.
Seperti kebanyakan tokoh politik, ada benci tapi ada yang mencintai Margaret, beberapa pihak menganggap ialah sosok yang menyelamatkan Inggris ketika sedang mengalami banyak masalah ekonomi. Terlepas itu, Margaret memang meninggalkan jejaknya pada dunia politik Inggris.
5. Malala

Perempuan yang sukses meraih Nobel Perdamaian di usia 14 tahun, menjadikan dirinya sebagai peraih nobel termuda di dunia. Di usia 11 tahun, Malala hanyalah seorang pelajar di Pakistan. Bisa dibilang Malala adalah Kartini versi Pakistan, di usia 11 tahun Malala menulis diari tentang bagaimana hidup di bawah aturan kelompok ekstrim Taliban di Pakistan yang melarang pendidikan bagi kaum wanita.
Dalam buku hariannya Malala mengisahkan sebagai perempuan Pakistan ingin tetap melanjutkan pendidikan. Menurutnya bahwa perempuan tetap harus bisa bersekolah memperoleh pendidikan. Begitu banyak orang di dunia yang membaca buku diarinya, membuat Malala terkenal sebagai sosok perempuan muda yang berani memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita di Pakistan.
Hal ini juga yang membuat dirinya ditembak oleh tentara Taliban pada Oktober 2012, tapi untungnya nyawa Malala masih terselamatkan. Kini, Malala masih terus aktif mengkampanyekan hak-hak wanita di seluruh penjuru dunia dan menginspirasi banyak generasi.
6. RA Kartini

Sosok pahlawan perempuan yang mengubah paradigma sosial tentang kaum perempuan di Indonesia. Hidup di zaman saat kaum wanita dianggap sebagai kaum yang tidak apa-apa jika tidak sekolah dan memperoleh pendidikan seperti kaum laki-laki karena pada akhirnya hanya bertugas di rumah, dapur mengurus suami dan anak.
Kartini mendobrak hal tersebut, dengan memperjuangkan apa yang disebut dengan kesetaraan gender. Perempuan sama berhaknya dengan kaum laki-laki, untuk dapat pendidikan sehingga bisa bekerja dengan layak, dan tumbuh jadi individu pintar serta mandiri adalah nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Kartini. Bisa bersekolah di ELS (Europese Lagere School) membuat dirinya fasih bahasa Belanda, ditambah belajar dari buku dan majalah dari kebudayaan Eropa.
Bekal pengetahuannya ini RA Kartini bagikan kepada sesama perempuan di lingkungannya agar menjadi wanita pintar yang punya ilmu pengetahuan. Kartini lah yang vokal menggaungkan bahwa perempuan harus juga belajar, berani keluar rumah, dan mengejar cita – cita setinggi mungkin, bukan dipingit tidak melihat dunia luar.
(Helmi Ade Saputra)