TINGKAT pendidikan nampaknya tidak membuat seseorang lolos dari berita-berita yang tidak benar yang beredar di media sosial. Bahkan, sekelas dokter pun bisa terjebak dengan narasi-narasi palsu yang ada di medsos.
Sebelumnya, dr. Jiemi Ardian, salah seorang Psikiater dari Siloam Hospital Bogor terpaksa melayangkan permintaan maaf, lantaran membagikan ulang sebuah foto di akun Twitternya. Video itu menampilkan seorang pria lansia sedang memborong mi instan.
Sayangnya, narasi yang ditampilkan oleh sang pengunggah dikaitkan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap isu virus Korona yang tengah marak diperbincangkan.
Namun setelah foto itu viral di Twitter, seorang netizen yang mengaku sebagai anak dari pria di foto tersebut menyatakan keberatan. Dia menjelaskan bahwa narasi foto yang diambil di kawasan BSD itu tidak benar adanya.
"Saya anak dari bapak yang ada di foto itu. Perlu saya sampaikan, kalau ayah saya punya usaha grosir, dan kami setiap hari memang berbelanja si AEON Mall BSD City. Saya dan papa keberatan foto tersebut dijadikan konten hiburan. Apakah boleh dihapus? Saya rasa follower dr cukup banyak, dan itu membuat saya tidak nyaman. Terima kasih," tulisnya melalui direct message.
Hai teman teman, tadi kan saya retweet foto bapak bapak dengan banyak kardus Mie Instan. Saya dengan cerobohnya menganggap itu histeria akibat corona, tapi ternyata itu bapak bapak yang sedang bekerja
— dr. Jiemi Ardian (@jiemiardian) March 2, 2020
Dengan ini saya minta maaf. pic.twitter.com/kmXxeyOAVy
Melihat pernyataan tersebut, dr. Jiemi Ardian pun langsung melayangkan permohonan maafnya. Dia mengaku membagikan foto tersebut sebagai histeria akibat Korona.
"Hai teman teman, tadi kan saya retweet foto bapak bapak dengan banyak kardus Mie Instan. Saya dengan cerobohnya menganggap itu histeria akibat Korona, tapi ternyata itu bapak bapak yang sedang bekerja. Dengan ini saya minta maaf," tulisnya.
Oleh karena itu, Dokter Mahesa Paranadipa M, M.H, selaku ketua umum DPP Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI), kembali mengingatkan kepada seluruh tenaga medis di Indonesia agar lebih berhati-hati lagi dalam membagikan informasi menyangkut isu kesehatan seperti virus Korona atau COVID-19, terutama di media sosial.
Mahesa Paranadipa pun meminta masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi di media sosial. Hal ini juga berlaku pada akun-akun bercentang biru atau yang sudah terverifikasi.
"Walaupun kadang-kadang diposting akun centang biru, itu tidak menjamin juga. Jangan ditangkap bulat-bulat sebelum ada klarifikasinya," tutur Mahesa saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (3/3/2020).

Menurutnya, virus Korona ini adalah kasus baru, sehingga belum banyak penelitian yang dipublish mengenai virus ini. Karenanya, para dokter yang ingin menyampaikan informasi terkait virus Korona, harusnya berkiblat pada dua lembaga.
"Kita bergantung dengan informasi dari lembaga-lembaga otoritas yang berwenang. Misalnya kalau di dalam negeri ada Kementerian Kesehatan, di luar negeri ada WHO," tutur dia.
Sekadar informasi, pemerintah memastikan dua warga Kota Depok, Jawa Barat, yang dinyatakan positif terinfeksi virus korona atau Covid-19 saat ini kondisinya semakin baik. Mereka tak menggunakan selang oksigen karena memang tidak sesak napas.
Ia menjelaskan, keluhan terakhir kedua pasien yakni batuk, namun tidak panas sama sekali. Sejurus dengan itu, Yuri memastikan dua orang keluarga pasien yaitu kakak dan pembantu rumah tangga dinyatakan tidak tertular virus korona.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.