Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Psikolog Sebut Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat Hasil Manipulasi Budaya

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Jum'at, 17 Januari 2020 |11:25 WIB
Psikolog Sebut Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat Hasil Manipulasi Budaya
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

KEMUNCULAN kerajaan di Purworejo, Jawa Tengah menggemparkan masyarakat. Kerajaan yang dinamakan Keraton Agung Sejagat itu disebut-sebut penerus Kerajaan Majapahit.

Tapi, fakta menjelaskan bahwa itu semua hanya halusinasi. Raja dan Ratu Sejagat Purworejo yang memimpin Kerajaan Agung Sejagat memanipulasi banyak hal.

Akhirnya, membuat masyarakat di Purworejo percaya dengan Keraton Agung Sejagat. Mereka mengikuti aliran Raja dan Ratu Sejagat Purworejo yang menghebohkan itu.

kerajaan

Dijelaskan Psikolog Sosial Ade Iva Wicaksono, yang paling berpengaruh dari kasus ini adalah manipulasi budaya. Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat punya kepercayaan yang tidak sesuai dengan budaya yang ada.

"Raja dan Ratu Kerajaan Agung Sejagat menggunakan kepercayaan yang begitu dianut masyarakat di sana dan memanipulasi nilai yang ada dengan simbol-simbol yang dekat dengan kultur di sana," paparnya pada Okezone melalui sambungan telepon, Kamis 16 Januari 2020.

Iva, sapaan akrabnya, melanjutkan, namun ada hal yang lebih penting dari sekadar memengaruhi memanipulasi banyak hal. Termasuk kepercayaan masyarakat pada Kerajaan Agung Sejagat ini.

Kepercayaan masyarakat terbangun, karena beberapa simbol yang diciptakan di dalam kerajaan dekat dengan kultur masyarakat. Ratu dan Raja Sejagat Purworejo ini dinilai hebat karena mereka menggunakan simbol imajinatif.

"Hebatnya otak Raja dan Ratu Sejagat Purworejo ini, walau saya enggak tahu pemikir utamanya siapa, mereka tidak menggunakan simbol imajinatif, tapi memang ada di masyarakat," ungkap Iva.

Bisa dilihat di sana, pencipta kerajaan tersebut menempatkan kolam yang biasanya ada di setiap kerajaan untuk tempat mandinya anggota kerajaan. Ditambah juga dengan batu besar, artefak dan tulisan Jawa terukir di atasnya. Ada juga area yang berisi tiang-tiang kayu.

Tidak hanya itu, pakaian dan kebiasaan yang diciptakan di dalam kerajaan pun dibuat sedemikian rupa, hingga nampak benar adanya. "Benar, semua itu bukan imajinatif dan karena itu kepercayaan masyarakat semakin besar sehingga mereka akhirnya mau memberikan sejumlah uang untuk sang raja," pungkasnya.

(Dewi Kurniasari)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement