Bencana tsunami terbesar di abad-21 terjadi 15 tahun lalu. Ya, Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menelan korban hingga 200 ribu jiwa. Duka tersebut tak akan pernah hilang dan jadi sejarah bagi Bangsa Indonesia.
Tsunami Aceh 15 tahun lalu bukan hanya menghancurkan daratan tapi juga mental. Tapi, Aceh sekarang terus bangkit dan berusaha lebih baik dari sebelumnya. Penduduk di sana pun terus bangkit dan menggapai mimpi mereka.
Duka tsunami 15 tahun lalu tapinya masih terasa sampai sekarang oleh Almuniza Kamal. Ya, pria asli Aceh ini menjadi salah seorang korban selamat dari musibah dahsyat tersebut. Al, sapaan akrabnya, masih mengingat banyak momen mencekam tersebut.
Di peringatan 15 tahun tsunami Aceh yang digelar SOS Children's Villages di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta, Kamis (26/12/2019), Al menceritakan ulang bagaimana kejadian itu terjadi. Al membuka kembali buku kepahitan dalam hidupnya yang mungkin sudah ia larutkan bersama dengan kembalinya air pasang ke lautan bebas.
Di awal cerita, Al menuturkan bahwa sehari sebelum kejadian terjadi, tepatnya pada 25 Desember 2004 malam hari, ia dan adik perempuan berusaha untuk berebut bisa tidur di pangkuan sang ibu. Tapi, karena ia seorang kakak, akhirnya ia mengalah.
Esok harinya, setelah salat Subuh, Al bersih-bersih rumah. Kemudian, dia teringat akan rencana menjenguk sahabatnya. Al yang kala itu berusia 21 tahun, akhirnya pamit dari rumah pergi ke rumah sahabatnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sahabat, Al sempatkan mampir ke toko serba ada untuk membeli 2 kg jeruk dan cokelat yang niatnya akan diberikan untuk anak sahabatnya.
Nah, jam menunjukan pukul 8 pagi setelah ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sahabatnya. Di tengah perjalanan, ia merasakan gempa, tepatnya di Simpang Mesra. Motor yang ia kendarai pun mesti menepi.
"Di Aceh, gempa itu sudah kami anggap biasa. Makanya, saat gempa di 26 Desember 2004 pagi, saya nggak mikir akan bagaimana-bagaimana," katanya.
Setelah kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Al bertemu dengan seorang kakek berwajah khas pria Aceh naik becak motor. Ia sambil teriak berucap,
"Hai aneuk-aneuk lon
Segera taubat
Hana trep le kiamat, Hana trep le kiamat"
Yang artinya,
"Hai anak-anakku,
Bergegaslah kalian untuk taubat
Tak lama lagi akan kiamat, tak lama lagi akan kiamat"
Pernyataan ini keluar dari mulut kakek bersorban putih dan berpakaian serba putih dengan sangat lantang. Sambil mengendarai becak motor itu, si kakek terus mengucapkan kalimat tersebut.
Anehnya, kata Al, saat dicari lagi, kakek tersebut tidak ada. Entah ke mana perginya, tapi Al yakin betul kalimat itu yang diucapkan si kakek dan sampai sekarang terngiang di otaknya.
"Sayangnya saya lupa bagaimana wajah pasti si kakek, tapi sekilas, ya, seperti pria Aceh kebanyakan, berkulit sawo matang," ungkapnya sedih.
Al yang sadar dengan ucapan si kakek hanya bisa terdiam. Namun, beberapa respons orang yang ia lihat setelah mendengar perkataan si kakek malah seperti tidak memerdulikannya.
Nah, lima menit setelah Al mendengar ucapan si kakek yang sangat kencang, gelombang pasang atau yang biasa disebut orang Aceh dengan nama 'Ibena' datang dan langsung menghanyutkan dataran. Langit Aceh mendadak sangat hitam.