Diakuinya, setiap stase kala itu harus merogoh kocek kisaran Rp1 jutaan. Bujet segitu untuk mendapatkan bahan praktikum seperti gigi palsu, membayar pasien, memberi ongkos dan makan untuk pasien, sekaligus membayar oknum.
"Biasanya oknum itu sudah mengerti. Saya butuh kasus gigi palsu, gigi yang lepas kakek atau nenek. Kita tinggal bilang, lalu dicarikan. Saking terbiasa, mereka sampai paham istilah-istilah kami," bebernya.

Menurutnya, banyak pasien bayaran yang tertarik mendapatkan tindakan gigi dengan cara curang, karena selama ini mereka takut ke dokter gigi. Bukan di dekat kampusnya saja, melainkan hampir di kampus lainnya juga ada gerombolan oknum yang sama tugasnya.
Usai koas, belum usai perjuangan belajar Dokter Gigi Eko di FKG. Dia harus melewati masa sulit ujian nasional, barulah melakukan sumpah dokter. Momen tersebut juga dinantikan semua mahasiswa kedokteran setelah menjadi sarjana.