Ia menganggap bahwa menjadi sugar baby adalah hak untuk kaum wanita, justru ia ingin memberdayakan mengajak sesama muda wanita lainnya untuk tak perlu ragu menjadi sugar baby. Jeane mengaku bahagia “menggunakan” kaum pria untuk pemenuhan kebutuhan finansialnya. Ia menggambarkan dirinya sebagai feminis dan juara dari hak-hak kaum wanita.
Well, di sela-sela gaya hidup jetsetnya sebagai sugar baby dari para sugar daddy yang menjalani hubungan dengannya. Wanita yang menguasai tiga bahasa asing ini menulis sendiri sebuah buku, “Footsteps of Confidence” dan juga bekerja dengan para pengungsi Palestina di Lebanon hingga berbicara di forum pertemuan Girl Scout.
Jeane remaja ternyata juga pernah memenangi kontes ajang kecantikan di Amerika. “Ketika aku berusia 15 tahun aku berhasil memenangkan titel Miss City Beautiful Teen dan Miss Avaloq Park Teen USA, dari sini aku belajar untuk bagaimana mencintai dirimu sendiri. Aku memulai mendirikan organisasi yang berjudul “Empowering Young Girls”.

Menjalani dual peran sebagai seorang aktivis namun juga sebagai sugar baby, Jeane yang merupakan lulusan ilmu Hubungan Internasional ini menilai tidak ada konflik kepentingan antara hidupnya sebagai sugar baby dan aktivis wanita.
“Menjadi seorang sugar baby, hanyalah mengetahui bahwa diri Anda sendiri berharga,” ujar Jeanemarie.
Perjalanan hidup Jeane sampai akhirnya menjadi sugar baby ini bisa dibilang cukup panjang dan berliku. Dipaksa menikah dan mengenakan hijab di usia 17 tahun, hingga akhirnya bisa membebaskan diri dan bercerai dari suaminya yang bukan hanya pemabuk namun juga melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga.