Sejumlah universitas di Indonesia hingga saat ini masih menerapkan program kuliah kerja nyata (KKN) bagi para mahasiswanya. Dalam KKN, biasanya kumpulan mahasiswa dikirim ke suatu desa untuk mengabdi ke masyarakat selama 1-2 bulan. Saat KKN, tentunya banyak pengalaman yang berkesan. Contohnya pengalaman mistis.
Beberapa waktu lalu, di media sosial sempat ramai kisah KKN di Desa Penari. Tapi sebenarnya banyak pula yang mengalami kejadian mistis selama KKN. Salah satunya adalah Fero (bukan nama sebenarnya).
Kepada Okezone Fero bercerita jika pada 2013 lalu ia bersama teman-teman kelompoknya melakukan KKN di salah satu desa di daerah Bali Tengah.
Mereka tiba di desa tersebut pada saat Maghrib. Pertama kali tiba, masing-masing mahasiswa merasa bersemangat dan saling meluapkan kegembiraan karena telah sampai di tujuan, mengingat medan yang ditempuh cukup sulit. Ya, Fero bersama teman-temannya harus melewati kontur jalan yang berbukit-bukit dan cukup berliku.

“Pas tiba, kami semua berisik. Kami juga disambut lolongan anjing waktu pertama kali datang, jadi suasananya ramai. Padahal desa tempat kami KKN itu sepi,” terang Fero saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (5/9/2019).
Desa tempat Fero dan teman-temannya KKN terdiri dari empat dusun. Jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh. Begitu juga dengan jarak antardusun yang harus ditempuh menggunakan sepeda motor. Fero dan teman-temannya tinggal di Dusun A.
Mahasiswa laki-laki tinggal bersama-sama di sebuah puskesmas. Sedangkan mahasiswa perempuan terbagi menjadi tiga kelompok dan tinggal di rumah warga.
Keesokan harinya, Fero bersama teman-temannya mereka survei lokasi tempat KKN. Mengingat mereka juga setiap hari harus ke kantor kepala desa guna mengisi absen. Jarak dari tempat tinggal selama KKN ke kantor kepala desa kira-kira 3 km. Oleh karenanya mereka harus mengendarai sepeda motor bila ingin pergi.
“Kami harus melewati hutan dan jalan yang berkelok. Ada satu tikungan yang di sebelahnya terdapat sungai dan hutan, lalu di bawahnya ada gua. Menurut warga sekitar, sungai dekat tikungan itu biasa dijadikan tempat untuk membuang abu jenazah sehabis upacara Ngaben,” papar Fero.