Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Viral Kasus Istri Kedua Bakar Suami dan Anak Tirinya, Ini Kata Psikolog

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Jum'at, 30 Agustus 2019 |18:33 WIB
Viral Kasus Istri Kedua Bakar Suami dan Anak Tirinya, Ini Kata Psikolog
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Kasus Aulia Kesuma bakar suami terus bergulir. Motif dia membakar sang suami, Edi Chandra Purnama alias Pupung, dan anak tirinya, M Adi Pradana, adalah utang piutang. Aulia yang merupakan istri kedua Pupung tak terima rumah suaminya dilarang dijual oleh Dana.

Buntut dari keputusan tegas sang anak tiri yang kemudian membuat Aulia ide keji bakar suami. Aulia yang sedang gelap hati, menghubungi mantan pembantunya untuk minta dicarikan eksekutor yang bisa membunuh suami dan anak tirinya tersebut.

Nama Kuswanto Agus (A) dan Muhammad Nur Sahid (S) keluar sebagai pelaku eksekutor. Dua pria ini ditugaskan Aulia untuk membakar Pupung dan Dana. Mereka berdua ini diketahui berasal dari Lampung.

 Laki-laki dan perempuan

Dengan tugas yang sangat berat, Agus dan Sahid dijanjikan akan dibayar Rp500 juta. Upah itu dibayarkan setelah Pupung dan Dana benar-benar dinyatakan tewas.

Peristiwa itu pun terjadi. Dikabarkan sebuah mobil hangus terbakar di Cidahu, Sukabumi, yang mana di dalamnya terdapat dua orang pria yang diketahui adalah Pupung dan Dana. Kasus ini kemudian diketahui pihak kepolisian. Selidik punya selidik, tim kepolisian menyimpulkan kalau dalang dari kejadian ini adalah Aulia Kesuma.

Berkaca dari kasus ini, Okezone coba meminta pandangan Psikolog Meity Arianty untuk menilai bagaimana akhirnya Aulia berani merencanakan pembakaran tersebut.

Psikolog yang biasa disapa Mei menjelaskan, kasus ini sebetulnya sudah sering terjadi. Terlebih jika melihat motifnya adalah utang.

"Uang dan utang adalah hal yang cukup sering membuat orang bisa berpikiran dan bertindak irasional. Kadang pelaku sering kali tidak memiliki cara lain untuk menyelesaikan masalah, selain dengan kekerasan dan dengan cara instan lainnya," papar Psikolog Mei, Jumat (30/8/2019).

Harus diakui juga kalau kondisi ekonomi, gaya hidup, dan kebutuhan bisa menjadi pemicu seseorang gelap mata. Tak terkecuali masalah utang ini.

Mereka yang dihadapkan dalam masalah seperti ini kebanyakan tidak berpikir panjang dan merasa tidak memiliki jalan keluar selain menghilangkan nyawa orang lain. Ya, kalau dalam kasus Aulia, membakar suami dan anak tirinya adalah cara terbaik agar dia bisa menjual rumah dan melunasi utangnya.

"Jadi, dalam kasus ini, pelaku berpikir kalau membakar 'penghalangnya' yang merupakan suami dan anak tiri ialah jalan keluar terbaik untuk mendapatkan uang. Dia gelap mata dan akhirnya merencanakan semua ini," ungkap Mei.

Dia melanjutkan, melihat kasus seperti ini sejatinya menyadarkan kita semua kalau masyarakat sekarang sudah semakin menurun rasa empatinya. Hal sederhana yang bisa terlihat adalah di commuter line (KRL). Di mana misalnya ada perempuan berdiri dan laki-laki duduk, si pria tidak memberikan tempat agar perempuan bisa duduk.

Ini hal paling simpel sebetulnya. Tapi, bagi Mei, itu menjadi cerminan masyarakat sekarang, yang mana kebanyakan dari kita sudah berkurang rasa empatinya.

"Jadi, nggak heran kalau sekarang masyarakat kita makin mudah menghilangkan nyawa manusia lain seolah nggak memiliki rasa kasihan, empati, dan penghargaan terhadap nyawa seseorang," tambah Psikolog Mei.

(Utami Evi Riyani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement