Benar saja, saat mewawancarai dua orang penumpang bernama Paul dan Christian, keduanya sepakat bahwa masalah terbesar pada penerbangan itu adalah stok winenya yang sangat terbatas.
"Bangkunya cantik, makanannya enak, masalah besar itu winenya habis. Champagne, white wine, red wine, semua jenis wine habis," ungkap Paul.

Paul menambahkan, ketika penumpang memilih business class, sudah seharusnya pihak maskapai memberikan pelayanan terbaik mereka.
"Di Australia penerbangan domestik saja tidak pernah kehabisan wine. Ini sangat memalukan, bukannya kami harus minum banyak wine, tapi kehabisan wine saat penerbangan?," kata Christian.
"Di sini ada 40 kursi business class, dan mereka cuma punya 3 botol champagne, itu benar-benar sangat mengecewakan," tambah Paul.

Alhasil, Paul dan Christian mengaku akan berpikir 2 kali bila ingin kembali menggunakan Garuda Indonesia. Padahal, reputasi Indonesia di mata mereka sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Namun dengan adanya insiden ini, mereka kembali meragukan kredibilitas maskapai tersebut. "Soal menu kertas tidak masalah. Servisnya juga bagus. Tapi kehabisan wine itu tidak bisa ditolerir," tukas Paul.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.