KASUS bunuh diri pada remaja hingga kini mungkin belum mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat. Padahal, prevalensi kasus tersebut di Indonesia cukup memprihatinkan. Menurut Riskesdas 2013, dari sampel populasi usia 15 tahun keatas yang berjumlah 722.329 orang, prevalensi keinginan bunuh diri sebesar 0,8% pada laki-laki dan 0,6% pada perempuan. Selain itu, keinginan bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah perkotaan daripada di desa.
Hasil mencengangkan juga didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan, Dr. dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ. Dalam penelitian disertasinya yang berjudul 'Deteksi Dini Faktor Risiko Ide Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Sederajat di DKI Jakarta', ditemukan 5% dari 910 pelajar SMAN dan SMKN akreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri.
Selain itu, pelajar yang terdeteksi berisiko bunuh diri memiliki risiko 5,39x lebih besar untuk mempunyai ide mengakhiri hidup dibandingkan pelajar yang tidak terdeteksi.
Melihat kondisi ini, tentunya harus ada kerja sama antara pihak orangtua dengan sekolah guna mencegah terjadinya bunuh diri pada remaja. Menurut dokter yang akrab disapa Noriyu itu, komunikasi dan keterbukaan merupakan kunci utama.
Sebab peristiwa atau tanda-tanda anak hendak melakukan bunuh diri belum tentu muncul di rumah, tapi di sekolah, dan begitu juga sebaliknya.

"Artinya saya berharap tidak ada pihak yang saling menutupi, terutama pihak sekolah. Sekolah itu terkadang merasa enggan untuk terbuka karena orangtua menuntut kesempurnaan. Sebab terkadang orangtua berpikir kalau sudah dilempar ke sekolah maka urusan sudah selesai, padahal tidak," ungkap dr Noriyu saat ditemui Okezone dalam jumpa pers, Kamis, 11 Juli 2019 di kawasan Depok, Jawa Barat.
Dirinya menambahkan, kerja sama antara pihak sekolah dengan orangtua sangatlah penting. Dengan begitu, pengawasan terhadap pelajar atau remaja bisa dilakukan secara komperehensif untuk meminimalisir keinginan bunuh diri. Cara yang paling mudah adalah dengan melihat prestasi anak.