Kasus kecanduan seks menyimpang yang merundung 19 bocah di Garut tengah menyita perhatian masyarakat Indonesia. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Garut terus menyelidiki motif anak-anak di bawah umur ini hingga memiliki perilaku seks menyimpang.
Dugaan sementara, hal ini dipicu oleh kebiasaan merema menonton video porno. Menanggapi kasus tersebut, Psikolog Liza Djaprie menegaskan bahwa sudah saatnya pemerintah maupun orantua mulai menanamkan pendidikan seksual kepada anak sejak dini.
“Kultur dan pendidikan kita itu masih banyak mentabukan pendidikan seksual. Padahal, menurut penelitian, semakin dini mereka mengenal pendidikan seksual, anak-anak pun akan semakin bijak menyikapi hal-hal berbau seks. Contoh saja Belanda, di sana tingkat perkosaannya 0% loh!,” ujar Liza Djaprie saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Jumat (26/4/2019).
Lebih lanjut, Liza menjelaskan, dengan ditanamkannya pendidikan seks sejak dini, mereka pun bisa berdiskusi kepada orangtua maupun guru di sekolah tanpa adanya rasa takut dan malu.

Sebaliknya, ketika pendidikan seks dianggap tabu dan anak-anak dilarang untuk mempelajari lebih lanjut, rasa ingin tahu mereka justru akan meningkat. Padahal, secara biologis, seksualitas itu adalah hal yang normal.
“Contoh simple aja, masih banyak orangtua yang nggak berani ngomong penis dan vagina di depan anak-anak mereka. Padahal penis dan vagina itu kan juga bagian organ tubuh seperti hidung atau mulut. Malah kalau semakin dilarang atau ditutup-tutupi, anak akan semakin penasaran, akhirnya mereka cari tahu sendiri tanpa bimbingan orangtuanya,” tegas Liza.