Menurut penuturan Ayse, gadis-gadis di tempatnya menato desain yang sederhana, seperti matahari, bulan, dan barang-barang rumah tangga seperti sisir. Terkait dengan pencarian bahan baku tato, Ayse menjelaskan kalau para perempuan mencari bahannya sendiri. Mereka mengumpulkan jelaga dari bagian bawah panci masak yang digunakan pada api kayu dan mencampurkannya dengan ASI dari seorang ibu yang memberi makan bayi perempuan.
"Susu seorang ibu yang menyusui anak perempuan digunakan karena tato yang dibuat dengan susu ini menghasilkan warna hijau pucat," kata perempuan lain yang bernama Hulu Aydoglu. "Susu seorang ibu menyusui seorang anak laki-laki berwarna lebih gelap."
Baca Juga: Kisah Nyata Jamaah Haji Bertato, Penjelasannya Bikin Merinding

Kontroversi Tato di Tukri