Keseriusan raja mengelola perkebunan kopi juga ditandai dengan kebijakannya mendatangkan ahli perkebunan kopi dari Eropa, Rudolf Kampff. Mangkunegara IV juga menerapkan manajerial modern dengan menunjuk administratur bergelar panewu kopi dan mantri kopi. Di setiap daerah didirikan sebuah gudang penampungan kopi. Setiap administratur bertanggung jawab kepada penilik atau inspektur.
Selain pengelolaan modern, Mangkunegara IV juga berjasa dengan meninggalkan warisan berupa pedoman tata cara pengolahan kopi untuk masyarakat pekopen pada 1867. Pedoman agar menghasilkan buah kopi yang lebat itu ada 17 tahap.
Dimulai dari pemilihan lahan, tanah, pengolahan tanah, pemilihan dan pengolahan benih, pemindahan semaian, penyangkulan, pemanenan, penjemuran, menumbuk, penggantian tanaman, sampai mengantisipasi hama.
“Sesuai kesepakatan dengan Belanda, kerajaan tidak bisa menjual hasil produksi ke pasaran bebas. Semua hasilnya harus dijual kepada pemerintah kolonial. Pengiriman kopi sebelum ada jaringan kereta api dilakukan dengan kapal. Dari gudang, kopi diangkut ke dermaga di Beton lalu dikapalkan melalui Sungai Bengawan Solo,” jelas Heri.
Merebaknya serangan jamur Hemeleia vastatrix (karat daun) di seluruh penjuru Nusantara turut menggoyang produksi kopi di lingkup istana Mangkunegaran sejak 1878. Perkebunan kopi di Karanganyar dan Wonogiri terus menanggung rugi akibat gagal panen mulai 1879 sampai 1900. “Kondisi ini memukul telak keuangan Mangkunegaran,” pungkas Heri.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.