Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Menyentuh Putri Down Syndrome Lolos Kuliah di Kampus Beken Dunia

Dewi Kania , Jurnalis-Jum'at, 15 Februari 2019 |09:20 WIB
Kisah Menyentuh Putri Down Syndrome Lolos Kuliah di Kampus Beken Dunia
Gadis Down Syndrome (Foto: Youtube)
A
A
A

PENYAKIT down syndrom memang membuat orang menjadi tidak percaya diri. Pasalnya, penyakit ini membuat tampilan seseorang menjadi tidak sempurna, terutama di bagian wajah.

Tidak jarang banyak anak-anak yang menjadi korban intimidasi karena penampilan mereka yang dianggap aneh. Akibatnya, mereka pun menjadi korban bullying dari teman-temannya.

Tapi tidak dengan Anne Catherine Heigl, yang menjadi seorang pemandu sorak, pemain tenis bahkan terpilih sebagai putri homecoming di tahun pertamanya sekolah di Zionsville High School di Zionsville, Indiana, pada 2017. Meskipun cacat, tapi dia tetap masuk universitas musim gugur ini.

Baca juga :

Semangat ini dia dapat ketika pulang dari kunjungan kuliah kakak perempuannya Lillie, dia pun mulai memiliki impian ke mana dia ingin pergi ke sekolah. Laura Heigl, ibu Anne Catherine mengatakan bahwa dia tidak bisa bisa mendaftar di mana pun, dia terdaftar karena tidak memiliki nilai akademik sebelumnya.

"Sepanjang hidupnya, kami mendorongnya untuk melakukan segala yang dia bisa lakukan dan mencoba berbagai hal, tetapi Anda tidak mengasuh anak dengan baik jika Anda tidak memberi tahu anak Anda bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka lakukan," kata Laura seperti dikutip Okezone dari Barcroft TV.

Terinspirasi oleh putrinya, ayah Anne Catherine, John Heigl, seorang profesional di Eli Lilly, membuat spreadsheet dari 200 sekolah yang memiliki program untuk siswa dengan cacat intelektual dan perkembangan.

Dia pun mendaftar ke lima perguruan tinggi musim gugur lalu, dan diterima di Universitas George Mason di Fairfax, Virginia. Program LIFE George Mason University adalah program empat tahun untuk mahasiswa dengan disabilitas intelektual dan perkembangan.

Awalnya, keluarga Heigl tidak tahu apakah Anne Catherine akan masuk ke George Mason. Karenanya, ada 50 hingga 60 orang mendaftar untuk program ini setiap tahun, dan hanya 16 yang diterima pada tahun 2017.

"Sulit bagi orangtua untuk mengirim anak pergi. Tapi Ini pada tingkat yang sangat berbeda. Ini bukan rencana kita," katanya.

“Ini rencananya. Dan kami merasa tugas kami sebagai orangtua adalah mendukung rencananya, seperti yang kami lakukan untuk kakak laki-laki dan perempuannya," tambah dia.

Pertama kali Laura melihat email bahwa anaknya diterima, dia pun hanya duduk di mobilnya menangis senang. Dia kemudian menelepon untuk mengadakan pertemuan keluarga dan menunjukkan kepada Anne Catherine email tersebut.

Anne Catherine adalah orang pertama dari Indiana yang diterima dalam program LIFE, yang dimulai pada tahun 2002. Dia berharap dapat belajar memasak atau sesuatu yang akan membuatnya bekerja dengan anak-anak, serta keterampilan belajar untuk hidup mandiri.

Tapi, kuliah di George Mason memiliki biaya tinggi dengan harga USD13.000 per semester atau RP182 juta. Beruntung, Anne Catherine adalah penerima Dana Pengayaan O'Neil Tabani 2017 dari National Down Syndrome Society.

"Dana tersebut menawarkan bantuan keuangan kepada orang dewasa muda yang menderita down syndrome perkaya kehidupan mereka dengan mengambil kelas atau mendaftar dalam program pendidikan postsecondary," tulis The National Down Syndrome Society.

(Renny Sundayani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement