ADA dua kota besar di Kalimantan Barat, yang selalu meriah dalam melaksanakan serangkaian kegiatan perayaan Imlek dan Cap Go Meh (CGM). Seperti di Kota Singkawang, selalu ada festival CGM setiap tahunnya. Di kota yang dijuluki Kota Amoy ini, setiap CGM pasti diramaikan dengan pawai lampion dan tatung. Serta di pusat kota dihiasi dengan pernak-pernik khas Tionghoa.
Berbeda dengan Kota Pontianak. Di ibukota Kalbar ini, tidak ada pawai lampion atau tatung. Kalau pun ada tatung, hanya di depan kelenteng saja. Selain itu, satu ton kue keranjang juga menjadi pembeda perayaan CGM di Pontianak tahun ini.
Kue yang juga disebut Nian Gao atau dalam dialek Hokkian Ti Kwe itu disusun meninggi ke atas layaknya sebuah piramida. Piramida kue keranjang ini akan dipajang di panggung utama perayaan CGM Kota Pontianak di Jalan Diponegoro, Kecamatan Pontianak Kota. "Jumlah kue keranjang yang dipajang ada 2.000 biji. Beratnya satu ton," jelas Ketua Panitia CGM Kota Pontianak, Djie Sen di sela menyusun piramida kue keranjang tersebut, belum lama ini.
Ketika menyusun kue keranjang ini pada Senin malam, Djie Sen dibantu lima orang rekan dari Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak. Mereka terlihat sangat berhati-hati. Karena, kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula itu tidak bisa langsung disusun begitu jadi. Perlu waktu tunggu hingga kue mengeras. Sehingga, perlu waktu panjang untuk menyusunnya menjadi piramida. "Nantinya, akan ada beberapa piramida kue keranjang," kata Djie Sen.
Baca Juga: