Untungnya, tempat kerja Sudaryanto pada saat itu memang rutin mengadakan kegiatan donor darah, bahkan dilakukan dua kali dalam setahun. Namun ternyata, ia masih merasa kurang puas. Sudaryanto akhirnya mencari tempat lain untuk menyumbangkan darah di luar lingkungan kerja.
“Saya tidak punya harta yang bisa saya gunakan untuk membantu orang. Jadi saya pikir, dengan saya menyumbangkan darah ini bisa menjadi penggantinya. Oleh karena itu saya mulai mencari tempat alternatif dan rutin menjadi pendonor,” jelasnya.
Keputusan Sudaryanto menjadi pendonor darah mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Almarhum istri dan ketiga anaknya bahkan sempat menjadi pendonor rutin.
“Almarhum istri saya sangat mendukung saya. Justru dialah yang selalu mengingatkan saya untuk berolahraga dan menyantap makanan sehat agar kualitas darah yang saya sumbangkan terjamin,” kenangnya.

Lebih lanjut, Sudaryanto mengatakan, setiap kali mendonorkan darah ke rumah sakit atau ke kantor cabang PMI, ia merasa tubuhnya seperti terlahir kembali. Pernyataannya itu mungkin cenderung berbeda dengan pendonor darah lainnya yang cenderung lemas dan cepat lelah.