“Saya mulai donor darah itu dari tahun 1979. Satu tahun sebelumnya saya sudah menetapkan niat untuk ‘membersihkan’ dan membuat tubuh saya sehat. Saya berhenti merokok, mulai rutin berolahraga, dan menjaga pola makan,” tutur Sudaryanto saat ditemui Okezone, di Markas Pusat PMI, di Jakarta Selatan, Jumat (25/1/2019).
Keputusan Sudaryanto untuk mendonorkan darah ternyata berkaitan dengan pengalaman yang pernah ia alami sewaktu kecil, ditambah lagi melihat kondisi kesehatan orang-orang di sekitarnya.
“Saya lahir tahun 1943. Pada saat itu saya masih melihat perang terjadi di mana-mana, banyak mayat yang dibiarkan tergeletak di tengah dalam keadaan bersimbah darah. Memori tersebut terus tertanam di pikiran saya,” ungkap pria asal Solo, Jawa Tengah itu.

Baca Juga: Tak Selalu Pelosok, Ini 5 Kasus Gizi Buruk di Perkotaan
“Sejak saat itu, saya terus kepikiran, apalagi saat saya beranjak dewasa, saya sering mendapat kabar dari keluarga dan orang-orang di sekitar bahwa mereka sedang membutuhkan donor darah. Akhirnya saya memantapkan diri untuk menjadi pendonor,” timpalnya.