"Pengalaman klinis saya sebagai dokter spesialis penyakit dalam menemukan bahwa pasien dengan HIV terjadi pada semua kalangan. Penyakit ini bisa menulari semua profesi. Ibu rumah tangga (IRT) yang tidak gonti-ganti pasangan pun menderita HIV karena mungkin tertular dari suaminya yang suka jajan di luar," sambungnya.
Bahkan, seorang ibu muda baik-baik yang akan menikah bisa saja positif mengidap HIV karena kemungkinan tertular dari mantan pacarnya yang memakai narkoba, di mana saat pacaran sewaktu duduk di bangku SMA pernah berhubungan seks beberapa kali.
"Berdasarkan pengalaman ini, untuk memastikan apakah seseorang menderita HIV/AIDS, saya tidak akan melihat status sosial pasien tersebut walau sehormat apa pun status sosialnya," tegas dr Ari.
Gonta-ganti pasangan di era sekarang melalui prostitusi online sepertinya sesuatu hal yang sudah berjalan lumrah. Dari sudut agama, jelas bahwa hubungan seks di luar pernikahan merupakan zinah dan amal ibadah orang yang melakukan zinah tidak diterima selama 40 tahun.
Dari sudut kesehatan, gonta-ganti pasangan berisiko penyakit seksual. Kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD).
"Untuk para wanita yang gonta-ganti pasangan, selain penyakit STD tadi, mereka juga berisiko mengalami kanker mulut rahim," papar dr Ari.