SETIAP orang pasti memiliki pernikahan idaman mereka, tapi apa jadinya kalau pernikahan idaman tersebut terlalu ekstrem. Inilah yang terjadi di China, seiring bertambahnya pasangan yang melakukan pernikahan idaman mereka.
Akibatnya, otoritas China pun mencoba untuk mengakhiri budaya pernikahan tersebut, lantaran semakin mewah dan membuat dana untuk pernikahan semaki tinggi. Menurut otoritas, hal tersebut bertentangan dengan "nilai-nilai inti sosialis" dan mencerminkan "penurunan moralitas."
Pernikahan di China pada dasarnya menampilkan ritual dan tradisi yang rumit selama ribuan tahun, namun upacara pernikahan modern nampaknya telah lepas kendali, karena mendorong perayaan yang lebih mewah, hadiah mahal dan ritual ekstrem bahkan perpeloncoan untuk pengantin.
Baca Juga: Cantiknya Ratu Wushu Indonesia Pakai Syar i kini Sudah Menikah Lho!
Tapi ritual perpeloncoan tersebut, yang awalnya dilihat sebagai cara untuk mengusir roh jahat, telah tumbuh sangat ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Para calon pengantin pria, mempelai wanita dan pengiring pengantin pun kadang-kadang melakukan tindak kekerasan.
Pada November, seorang pria di China selatan dirawat di rumah sakit setelah ditabrak mobil, karena mencoba melarikan diri dari ritual perpeloncoan temannya. The South China Morning Post melaporkan bahwa dia telah diikat ke tiang listrik dan dipukuli dengan batang bambu sebelum pernikahannya.
Selain itu, keluarga di daerah pedesaan juga telah menetapkan "harga pengantin", jumlah uang yang diberikan kepada keluarga mempelai oleh orang tua pengantin pria. Di provinsi Hubei, pejabat setempat telah melakukan intervensi setelah harga pengantin mencapai hampir USD30.000, sepuluh kali rata-rata upah tahunan di daerah tersebut.
Baca Juga: Viral Bocah SD Menahan Tangis Sambil Nyanyi Lagu Blackpink saat Disuntik

Setelah konferensi nasional di Jinan, China timur, Kementerian Urusan Sipil mengatakan ingin menciptakan sebuah perkawinan sederhana dan sesuai etiket, yang menganjurkan ketekunan dan hemat, serta menentang pemborosan.
“Kita harus mengintegrasikan nilai-nilai inti sosialis ke dalam konstruksi pernikahan dan keluarga. Agar kebiasaan pernikahan dapat lebih mencerminkan nilai-nilai negara,” tulis kementerian seperti dilansir dari time.