Okezone juga coba menyoroti bagaimana kasus ini menyeret fenomena baru di mana masyarakat sekarang akan sangat mudahnya mengeluarkan ponsel mereka, merekam kejadian, dan membagikannya di media sosial. Tidakkah mereka lupa tugas mereka sebetulnya yaitu menolong?
Banyak dari Anda mungkin juga geram dengan para "penonton" yang tidak banyak berbuat untuk menolong si korban. Tapi kita juga harus menyadari bahwa dalam situasi demikian, tentu ada banyak hal yang harus dipikirkan. Terkait dengan masalah perekaman aksi keji, Psikolog Mei menegaskan bahwa ini tentu ada kaitannya dengan "virus" media sosial yang mengubah kebiasaan manusia.
"Media sosial memberikan peran terhadap perilaku orang-orang yang melihat musibah namun malah foto-foto atau merekam. Seolah-olah tindakan ini paling tepat daripada menolong si korban," terangnya.
Dia menambahkan bahwa tindakan mereka juga bisa dimaknai sebagai upaya eksistensi dan kepuasan diri sendiri saat dapat mengabadikan sesuatu (walau itu musibah).
"Hal ini terjadi karena makin menipisnya rasa empati, kepedulian terhadap lingkungan, bahkan rasa kemanusiaan yang harusnya masih menjadi hal yang paling penting dalam hidup bermasyarakat," tambahnya.
Semoga kasus seperti ini tidak lagi terjadi di Indonesia. Amin!
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.