
"Saat itu, mungkin karena faktor tidak tahu, Kakek saya asal buka saja peti itu dan seketika ia muntah darah," ujar Hasan kepada Okezone, saat di temui di Situs Patilasan Panembahan Pasarean, Kelurahan Gegunung, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Minggu (9/9/2018).
Sebelumnya banyak dari masyarakat awam menganggap, bahwa manuskrip itu memiliki kekuatan ghaib. Namun menurut Hasan, hal itu terjadi karena demi menjaga agar naskah itu bisa bertahan lama, para leluhurnya menaburkan semacam zat kimia dengan dosis tinggi pada setiap lembarannya.
"Setiap lembarnya naskah itu ditaburi semacam zat kimia, agar awet dan terhindar dari serangan serangga. Untuk sekarang sudah bisa disentuh langsung, namun tetap harus hati-hati agar tidak terkena reaksi dari zat itu," sambungnya.
Manuskrip itu biasanya ditulis dengan aksara Kawi, Carakan, ataupun Arab Pegon. Jumlah manuskrip yang tersimpan di lokasi tersebut mencapai ratusan. Namun sayangnya, karena sebelumnya masyarakat tidak begitu paham, beberapa dari peninggalan sejarah itu nampak tidak terawat dengan baik. Ada yang hilang termakan rayap, ada juga yang terbakar.