Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Potret Ngabuburit di Sekitar Masjid Agung Serang

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 05 Juni 2018 |12:40 WIB
Potret Ngabuburit di Sekitar Masjid Agung Serang
Foto: Kemenag
A
A
A

SERANG - Masjid Agung Ats-Tsaurah atau biasa disebut warga Serang dengan istilah Masjid Agung Serang berdiri pada 1870-1888 M. Masjid yang terletak di Jalan Maulana Yusuf, Kota Serang, Banten, itu memiliki luas bangunan 26.510 m2 (2,6 hektare).

Masjid ini memiliki kapasitas jamaah sekitar 2.500 orang. Berdasarkan catatan pengurus DKM, Masjid Agung Serang mulai dibangun oleh Rd Tumenggung Basudin Tjondronegoro, mantan Bupati Pandeglang dan Bupati Serang pada 1870-1888 M.

Kepengurusan Masjid Agung Serang terus berganti-ganti seiring dengan berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan manajemen masjid yang profesional. Dalam 20 tahun terakhir ini, tercatat tiga kali pergantian kepengurusan DKM, yakni periode 1996-1998 pimpinan Aman Sukarso dengan fokus pembangunan masjid, periode 1998-2005 dipimpin Sandir Usman, dan pada periode 2006- kini diketuai H Pandji.

Fokus kegiatannya adalah merestrukturisasi manajemen dan menata ulang tata ruang masjid dengan mendirikan beberapa bangunan penunjang. Sementara kegiatan Masjid Agung Serang dalam pelaksanaannya melibatkan beberapa pihak, yaitu pengajian rutin setiap sebulan sekali, kajian bulanan (kalbu) dengan pembahasan kajian tematik bekerja sama dengan FSPP Kabupaten Serang yang dilaksanakan setiap akhir bulan, pengajian bulanan ibu-ibu BKMT dan Alhidayah Kabupaten/Kota Serang, serta pengajian rutin pemuda (rimas).

Ilustrasi Ngabuburit (Foto: Todayupfeed)

[Baca Juga: Masjid Al Muttaqin, Saksi Sejarah Masuknya Agama Islam di Kota Manado]

Pada bulan Ramadan ini banyak masyarakat Kota Serang sengaja buka bersama dengan keluarganya di halaman masjid. Karena terdapat jajanan takjil hingga makanan berat di lokasi masjid. Bahkan, Islamic Center Kota Serang di Kawasan Masjid Ats-Tsauroh menyediakan kudapan khas berbuka puasa setiap Ramadan.

Kios-kios nonpermanen hampir selalu terisi penuh pedagang yang menjajakan beragam menu khas berbuka. Sebut saja ketan bintul dan empal daging yang begitu legendaris, kolak pisang, sop buah, pacar cina, lemang, hingga kolang-kaling.

Selain menu takjil yang lengkap, lokasi tersebut selalu ramai karena lokasinya strategis. Tak heran jika setiap Ramadan, Islamic Center Kota Serang menjadi sentra tempat ngabuburit karena kuliner. Selain itu, pengunjung juga bisa sekaligus melaksanakan ibadah salat magrib di Masjid Ats-Tsauroh seusai menyantap menu berbuka puasa. Di kawasan itu sudah ramai sejak pukul 16.00 WIB. Mereka berburu takjil sambil ngabuburit .

Seorang pembeli yang mengunjungi lokasi, Rohmani, terbantu dengan adanya banyak penjual makanan khas Ramadan berkumpul di area itu. Dengan banyaknya pedagang, maka semakin beraneka ragam juga jenis makanan yang ditawarkan sehingga dia bisa memilih menu makanan sesuai dengan keinginannya.

“Enak kalau banyak kan bisa memilih. Kawasan ini menjadi lokasi favorit saya setiap bulan Ramadan. Karena lengkap ya, minumannya dan makanannya juga,” ucapnya. Pengunjung lain, Sarturi menuturkan, sejak tahun sebelumnya sering membeli makanan untuk berbuka puasa di Islamic Center.

Dia sering mengajak teman-temannya berbuka puasa di kawasan tersebut. “Sambil beli makanan buat buka sambil menunggu azan. Tahun ini juga mungkin akan berbuka puasa bareng di sini, biasanya pada pertengahan puasa,” ujarnya.

(Abu Sahma Pane)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement