ANDA mungkin pernah melihat atau mendengar seseorang yang tenggelam dan pingsan setelahnya, ditolong dengan ciuman?
Tindakan ini pro-kontra. Banyak yang beranggapan penekanan pada dada jauh lebih efektif dibandingkan pertolongan pertama dengan memberi napas buatan. Namun, tak sedikit yang menyatakan bahwa dengan mouth-to-mouth akan lebih cepat melancarkan saluran pernapasan.
Tapi, jika melirik pada referensi, ternyata tindakan CPR mouth-to-mouth punya maksud tersendiri. Bukan sekadar ciuman, namun sang penolong mencoba untuk mengaktifkan kembali sistem tubuh yang mati akibat reaksi mengejutkan sebelumnya.
Baca juga: 4 Ilmuwan Dunia yang Masuk Islam karena Riset Ilmiah Mereka
Perlu Anda ketahui, jika seseorang tidak dapat bernapas, maka sel-sel tubuhnya menjadi kekurangan zat asam. Apabila dalam 5 menit oranh tersebut tidak mendapatkan zat asam, maka sel otak akan mengami kerusakan total.
Kondisi ini sama dengan paru-paru atau jantung yang tidak bergerak untuk sementara waktu. Dalam kondisi ini, nyawa pasien bisa diselamatkan dengan memberikan pertolongan melalui pemberian napas buatan.