"Tidak sepenuhnya diketahui mengapa hal itu terjadi tetapi diduga karena efek merugikan dari gelombang katekolamin secara tiba-tiba," katanya seperti yang dikutip dari Independent, Kamis (26/4/2018).
Sementara itu, menurut Harvard University Medical School sindrom patah hati ternyata dapat membuat ruang pemompa utama jantung yaitu ventrikel kiri melemah. Kondisi ini sulit didiagnosis karena gejalanya hampir identik dengan serangan jantung seperti nyeri dada atau sesak napas. Tapi tentu patah hati berbeda dengan serangan jantung karena tidak ada penyumbatan di arteri koroner.
Lebih lanjut Dr Nicole menyatakan bila sindrom patah hati lebih sering terjadi pada perempuan dan orangtua. Dalam banyak kasus, orang-orang biasanya pulih dan jantung kembali normal dalam beberapa minggu. Tapi pada kasus yang parah, sindrom patah hati dapat menyebabkan kematian mendadak.
Kondisi tersebut lantaran terjadi gagal jantung dan memengaruhi 20% pasien. Selain itu, patah hati memiliki efek buruk pada jantung dalam jangka panjang. Maka penting bagi seseorang untuk mengatasi masalah hati sesegera mungkin. Sebab cokelat dan menangis terkadang tidak cukup untuk mengatasinya.
(Dinno Baskoro)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.