Keanekaragaman budaya dan agama juga ditampilkan dalam karnaval ini. Contohnya adalah saat salah satu peserta menampilkan tema Tiongkok. Lengkap dengan Barongsainya. Sedangkan pendampingnya berkostum para pemuka agama. Ini menjadi simbol betapa rukunnya kehidupan beragama di Provinsi Sultra. Ada juga aksi drum band cilik dari SD Katholik Pelangi Kendari. Mereka melengkapi warna-warni karnawal perayaan Halo Sultra di Kota Kendari.
"Nilai Pancasila dan Undang-undang Dasar tentang suku bahasa di Indonesia bisa kita lihat di karnaval ini. Karnaval ini hanya sebuah gambaran kecil ke Bhineka Tunggal Ika di Sultra. Saya bangga dengan para peserta dan panitia. Walau pun saya baru 2 bulan bertugas, tetapi saya makin mencintai Sultra, " tegasnya.
Ketua Pelaksana Calendar of Wvents 2018 Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti, mengapresiasi gelaran Sultra Tenun Carnaval 2018. Menurutnya, Sultra Tenun Carnaval 2018 merupakan penguatan unsur atraksi dalam pengembangan pariwisata Provinsi Sultra.
Efek domino yang ditimbulkan pun bisa panjang. Selain mengangkat pariwisata, Sultra Tenun Carnaval 2018 bisa membantu mengembangkan potensi kreativitas anak muda dalam membangun daerah.
“Panitia Halo Sultra sangat jeli dalam menggelar rangkaian acara yang baik. Contohnya dengan menggelar Sultra Tenun Carnaval 2018 untuk meramaikan Halo Sultra. Selain itu ini menjadi wadah kreativitas. Artinya, mereka tidak hanya menampilkan desain pakaian yang, namun juga sebagai penyampai pesan budaya dan sejarah. Dari Sultra untuk dunia," ujar Esthy yang juga Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar itu.