(Foto: Revi/Okezone)
Hal itu yang membuktikan bahwa video-video makanan yang diunggah oleh Rivan diminati publik kebanyakan.
"Gue pribadi, lebih suka medsos daripada berita. Karena berita udah disortir. Kalau medsos kan suka suka yang upload. Bagus atau jelek lebih objektif. Kalau media ada aturan-aturannya. Makannya balik lagi ke blogger," sambungnya.
Sementara itu untuk menapaki dunia food blogger tentunya Rivan juga harus mempunyai sebuah ciri khas agar bisa dikenal orang. Ya, Rivan justru sengaja menyuguhkan sosok rakus dimana ia harus menampilkan review makanan dengan cara makan yang terburu-buru. Dari sinilah branding dari Rivan muncul.
"Biar dapat viewer, kalau saya brandingnya emang sengaja rakus. saya emang aslinya begitu, jadi buat tampil begitu enggak susah. Aslinya orangnya makannya buru-buru dan banyak. Kalau makannya kalem, kan biasa aja jadinya. Memang enggak semua orang suka, ada aja komentar negatif," ujarnya.
Dan yang menarik lagi dengan keterlibatannya menjadi seorang food blogger, setidaknya Rivan mengangkat pedagang kuliner Indonesia, khususnya pada makanan-makanan pinggir jalan.