JAKARTA - Mendidik anak sejak balita adalah tugas orangtua yang paling sulit. Pasalnya, usia balita merupakan masa di mana si kecil masih ingin bebas melakukan hal sesukanya. Cara yang ditempuh setiap orangtua pun berbeda-beda. Ada yang lebih sabar, tapi ada pula yang cenderung marah-marah atau bahkan melibatkan kekerasan seperti menjewer, memukul, atau membentak.
Salah-salah pilih cara mendisiplinkan anak yang keliru malah bisa membuat anak semakin membangkang dan kabur dari tanggung jawab. Daripada pakai kekerasan yang membuang-buang energi, lebih baik pakai cara yang lebih halus, tapi fokus dan ampuh mendisiplinkan anak. Bagaimana caranya?
Tips mendidik anak balita agar tumbuh disiplin hingga dewasa
1. Konsisten
Dilansir dari WebMD, Claire Lerner, seorang spesialis perkembangan anak, menyatakan bahwa sejak usia 2 sampai 3 tahun anak-anak bekerja keras untuk memahami bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang-orang di sekitarnya. Lerner mengatakan bahwa pola asuh yang diterapkan secara rutin dan konsisten dapat membuat anak merasa lebih aman dan terlindungi. Anak menjadi tahu apa yang diharapkan oleh orangtuanya sehingga dapat bersikap lebih tenang saat diberikan perintah.
Ambil contoh, saat Anda mengatakan “jangan memukul” saat pertama kali si kecil memukul teman sebayanya, mungkin keesokan harinya si kecil bisa tetap memukul. Jika Anda kembali mengatakan “jangan memukul” saat hal ini terulang untuk yang kedua, ketiga, atau keempat kalinya, anak akan lebih memahami dan bersikap tenang untuk tidak memukul. Akan tetapi ingat, gunakan nada yang lebih tenang agar anak tidak merasa terancam dan justru membangkang.
Sementara jika Anda tak konsisten, maka si kecil akan merasa bingung. Contohnya, ketika suatu hari Anda tidak membolehkan si kecil bermain bola di dalam rumah tapi keesokan harinya Anda justru membiarkannya. Hal ini akan membuat sinyal anjuran dan larangan di otak anak bercampur sehingga anak tak tahu mana yang boleh dan tidak boleh. Maka tidak heran bila anak lambat laun menjadi tidak disiplin.
Lakukan berkali-kali, hingga si kecil mengerti dengan perintah yang Anda berikan. Si kecil akan menyerap perintah dan belajar melakukan hal yang sama setelah empat atau lima kali kejadian berulang.
2. Kenali pemicu tantrum pada anak
Tantrum adalah kejadian yang wajar terjadi pada setiap anak. Maka itu, setiap orangtua harus tahu betul apa yang membuat anaknya tantrum dan rewel. Kebanyakan anak, memang akan memiliki emosi yang meledak-ledak saat merasa lapar atau mengantuk. Nah, baiknya hindari waktu-waktu ini saat Anda ingin mengajarkan disiplin pada anak.
Misalnya, bila Anda ingin mengajarkan anak untuk disiplin waktu tidur, pastikan Anda dan si kecil berada di rumah pada jam-jam tidur siang dan malam. Jadi, hindari membawanya ke supermarket atau tempat lainnya saat si kecil mengantuk atau lapar.
Di sinilah diperlukan kerja sama Anda dan si kecil agar proses mendidik anak berjalan dengan lancar. Kalau anak masih tantrum, berikan mainan kesukaannya terlebih dahulu untuk memicu suasana hatinya lebih baik. Barulah setelah itu Anda bisa kembali mengajaknya bermain sambil belajar bertanggung jawab dengan apa yang si kecil lakukan. Jangan lupa untuk berikan pujian pada si kecil saat dia berhasil melakukan kegiatan positif versi dirinya.
3. Ikuti pola pikir anak
Cara mendidik anak sejak balita lainnya adalah dengan mengikuti pola pikir si kecil. Memang sangat mudah untuk merasa kesal saat si kecil membuat seisi rumah berantakan. Hari ini si kecil menggambar seluruh dinding rumah dengan krayon, lalu keesokannya menyebarkan mainan tanpa membereskannya lagi. Anda tentu pusing dibuatnya.
Namun ingat, pola pikir Anda tentu berbeda dengan pola pikir si kecil. Mungkin bagi Anda membereskan mainan adalah hal yang mudah dan dapat cepat diselesaikan, tapi belum tentu untuk si kecil.
Jadi, cobalah untuk mengikuti pola pikir anak. Pada anak seusianya, hal-hal seperti itu memang menjadi kegiatan yang menyenangkan. Ingat pula bahwa Anda pun melakukan hal yang sama saat seusianya. Ini karena usia balita adalah masa ketika si kecil belajar dan mengenal apa yang ada di sekitarnya.
Jadi, alih-alih kesal karena si kecil tidak mau disuruh untuk membereskan mainnanya. Anda bisa ikut membantu membereskan mainan tersebut dan memberi contoh yang baik padanya. Beri tahu ia jika hal ini penting untuk dilakukan dan adalah tugasnya. Dengan begitu, ia lama-kelamaan akan terbiasa untuk melakukannya. Jangan lupa berikan si kecil pujian jika ia berhasil membereskan mainannya sendiri.