Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penyakit Radang Otak Jepang Bisa Mengakibatkan Kebutaan hingga Kematian

Penyakit Radang Otak Jepang Bisa Mengakibatkan Kebutaan hingga Kematian
(Foto: ABSCBN News)
A
A
A

JAKARTA - Penyakit Japanese Encephalitis (JE) atau radang otak yang ditularkan oleh nyamuk culex bisa menyebabkan kematian atau gangguan fisik bila penderitanya dapat bertahan hidup.

Dalam keterangan pers yang dikutip di laman resmi Kementerian Kesehatan di Jakarta, Senin (5/3/2018), disebutkan, JE bisa menyebabkan kematian dengan angka kematian berkisar antara 5 sampai 30 persen di Indonesia. Angka kematian ini lebih tinggi pada anak, terutama anak berusia kurang dari 10 tahun. Bilapun bertahan hidup, biasanya penderita seringkali mengalami gejala sisa.

Gejala sisa tersebut antara lain gangguan sistem motorik seperti motorik halus, kelumpuhan, gerakan abnormal; gangguan perilaku seperti agresif, emosi tak terkontrol, gangguan perhatian, depresi; gangguan intelektual; atau gangguan fungsi neurologi lain seperti gangguan ingatan atau memori, epilepsi, serta kebutaan.

Tanda dan gejala Ensefalitis biasanya muncul antara empat sampai 14 hari setelah gigitan nyamuk atau istilahnya dalam masa inkubasi.

Gejala utama berupa demam tinggi yang mendadak, perubahan status mental, sakit kepala, disertai perubahan gradual gangguan bicara dan berjalan, ataupun disfungsi motorik lainnya.

Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, iritasi, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada 75 persen kasus anak. Sedangkan pada penderita dewasa, keluhan yang paling sering muncul adalah sakit kepala.

(Baca Juga: Waspada Virus Japanese Enchepalitis dari Gigitan Nyamuk Sawah)

Sampai saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit JE, tetapi hanya dapat mengurangi gejala yang berfungsi mencegah perburukan kasus. Oleh karena itu, upaya pencegahan penyakit JE sangat penting dengan pemberian imunisasi dan menghindari gigitan nyamuk culex yang menjadi vektor penular virus.

Laporan dari Kementerian Kesehatan tahun 2016 menunjukkan di 11 provinsi terdapat 326 kasus Sindrom Ensepalitis Akut (AES) dengan 43 kasus atau 13 persennya di antaranya positif JE. Sebanyak 85 persen kasus JE di Indonesia terdapat pada kelompok usia di bawah 15 tahun dan 15 persen pada kelompok usia di atas15 tahun. Kasus JE terbanyak terdapat di Provinsi Bali.

(Baca Juga: Mengapa Vaksinasi Penyakit Radang Otak Jepang Digelar Massal di Bali?)

Imunisasi JE dikampanyekan dan dicanangkan di Kabupaten Tabanan pada awal Maret ini dan akan menyeluruh ke semua kabupaten di Provinsi Bali hingga April 2018. Imunisasi diberikan pada seluruh anak usia sembilan bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun.

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement