Operasi Caesar dan harus angkat rahim
“Awalnya, saya pikir hanya kontraksi palsu, tapi saya mulai merasakan kram dan durasi di antara masing-masing kram semakin dekat. Dengan cepat saya menelepon dokter dan dia menyuruh saya segera ke rumah sakit,” ucapnya.
Di rumah sakit, kontraksi semakin memburuk dan dokter memberi Samantha obat untuk menghentikannya. Saat sebelum diberi obat, Samantha mengalami kontraksi yang sangat intens hampir setiap menit, dan rasanya benar-benar seperti bisa melahirkan kapan pun.
Beruntung setelah beberapa saat minum obat, kram dan kontraksinya mereda. Tapi, efek dari obat Samantha jadi merasakan jantungnya berdebar dan kepalanya pusing. Malang, kontraksi justru datang lagi setelah obat diberhentikan penggunaannya.
Saat itu juga dokter mengatakan pada Samantha harus siap jika bayinya keluar lebih awal dari waktu yang diperkirakan sebelumnya, yaitu pada 26 November 2010, tepatnya 10 hari sebelum Estimated Date of Delivery (EDD), artinya perkiraan hari kelahirannya.
Samantha kehilangan darah 5 liter selama operasi
Ketika operasi berlangsung, Samantha bisa merasakan dokter menarik dan mendorong tubuhnya. Sementara, yang bisa ia lakukan hanya menunggu tangis buah hatinya. Suami Samantha yang selama operasi menemaninya menceritakan, istrinya telah kehilangan sekira 5 liter darah.
Betul saja, rahim Samantha harus diangkat. Hal tersebut harus dilakukan agar Samantha bisa selamat dan hidup. Setelah dirawat selama dua Minggu di rumah sakit, akhirnya Samantha dan bayinya bisa pulang. Bayinya berukuran lebih kecil daripada bayi lainnya, tapi ia menjamin buah hatinya bisa mendapatkan perkembangan yang baik.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.