Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Asal-usul Istilah 'Tea' dan 'Cha' untuk Teh di Dunia

Tiara Putri , Jurnalis-Sabtu, 20 Januari 2018 |20:00 WIB
Asal-usul Istilah 'Tea' dan 'Cha' untuk Teh di Dunia
Ilustrasi (Foto: Chinatown)
A
A
A

BEBERAPA waktu lalu matcha menjadi populer di tengah masyarakat. Berbagai makanan dan minuman dikreasikan dengannya. Matcha adalah teh hijau yang berasal dari Jepang dan memiliki cita rasa pahit.

Banyak orang yang menganggap matcha sama dengan green tea. Tapi tahukah Anda bahwa matcha dan green tea itu berbeda? Perbedaan itu terletak dari cara pengucapannya.

Melansir laman Quartz, Minggu (20/1/2018), versi pengucapan berasal dari negeri Tiongkok dan berkaitan dengan penyebaran teh itu sendiri. Teh sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan termasuk barang yang sering diperjualbelikan. Tentu Anda tahu bahwa di jalur perdagangan di zaman dahulu terjadi transaksi antar pedagang di seluruh dunia. Baik itu melalui jalur laut maupun jalur darat.

Perdagangan teh melalui jalur darat di Silk Road terkenal dengan istilah 'cha'. Pengucapan itu akrab di telinga masyarakat Tionghoa. Pedagang dari China kemudian menjual teh ke berbagai negara dan menggunakan istilah 'cha' untuk teh.

 (Baca Juga: Nyaris Plontos, Begini Tampilan Perdana Pangeran William dengan Rambut Barunya)

Bentuk pengucapan itu menyebar ke berbagai dunia yang melakukan transaksi jual beli teh melalui jalur darat. Bahkan ada yang menyesuaikannya dengan lafal bahasa masing-masing. Sebagai contoh, pengucapan menjadi 'chay' dalam bahasa Urdu, 'shay' dalam bahasa Arab, dan 'chay' di Rusia.

Sementara itu, perdagangan teh tidak hanya terjadi di jalur darat saja. Melainkan juga melalui jalur laut di mana saat kapal pedagang berhenti di pelabuhan terjadi transaksi jual beli. Pedagang yang menjual teh lewat jalur laut atau pesisir menggunakan istilah 'te' untuk teh. Bentuk pengucapan yang berasal dari China itu menyebar hingga ke Eropa karena peran dari pedagang Belanda.

Negeri kincir angin itu memiliki dua pelabuhan utama di Asia Timur, tepatnya di Fujian dan Taiwan. Di sana penjualan teh menggunakan istilah 'te'. Banyaknya pedagang dari Eropa yang datang untuk membeli teh membuat mereka akrab dengan istilah tersebut. Namun tetap saja, istilah 'te' disesuaikan dengan pengucapan masing-masing negara. Perancis menyebutnya 'thé', sedangkan Jerman menyebutnya 'Tee', dan Inggris menyebutnya 'tea'.

 (Baca Juga: Dari Beyonce hingga Celine Dion, 7 Seleb Hollywood Ungkap Kesedihan Pedihnya Keguguran)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan jikalau beberapa bahasa memiliki caranya sendiri untuk mengucapkan teh, apakah itu tea atau cha. Pengucapan itu umumnya berada di daerah teh tumbuh secara alami.

Selain itu, dari cara perdagangan teh yang dilakukan juga menunjukkan dua era yang berbeda. Pertama, penyebaran barang melalui darat yang berasal dari China kuno. Kemudian, adanya pengaruh budaya di Asia lantaran orang Eropa yang melaut pada zaman penjelajahan dan melakukan transaksi jual beli di Eropa. Hal itu membuat adanya perdagangan di jalur laut.

(Utami Evi Riyani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement