Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mitos-Mitos Kehamilan, Mulai dari Makan Banyak hingga Larangan Naik Pesawat

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 02 Januari 2018 |15:40 WIB
  Mitos-Mitos Kehamilan, Mulai dari Makan Banyak hingga Larangan Naik Pesawat
Ilustrasi
A
A
A

Jangan naik pesawat

Maskapai penerbangan melarang perempuan di penghujung kehamilan untuk terbang, bukan karena terbang bisa mengganggu janin, tetapi karena maskapai tidak menginginkan si calon ibu melahirkan bayinya di pesawat.

Sementara pada kehamilan usia muda, para ilmuwan menjadikan pramugari sebagai objek penelitian, bukan penumpang. Sebuah studi di Finlandia pada tahun 1999 memperlihatkan hasil yang menarik. Berdasarkan data pada 1978 hingga 1994 terdapat sedikit peningkatan jumlah pramugari yang keguguran.

Namun, mereka yang terbang di antara tahun 1973 dan 1977, lebih sedikit yang keguguran. Bahkan pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun risiko keguguran pramugari tetap tidak kecil, masih belum diketahui pasti apakah penyebabnya adalah karena mereka terbang atau karena beban pekerjaan.

Dan memang, ketika dibandingkan data pramugari dengan data guru pada 2015, jumlah guru yang keguguran ternyata lebih banyak. Ketika peneliti mengumpulkan data dua juta penerbangan yang ditempuh 673 pramugari dan mendalami pola jadwal kerjanya, mereka menemukan bahwa pramugari yang jam tidurnya kerap terganggu atau berubah, punya risiko keguguran lebih tinggi dibandingkan yang memiliki jadwal kerja lebih teratur.

Jadi, ternyata bukan aktivitas terbangnya sendiri yang jadi masalah, tetapi gangguan terhadap siklus alami tubuh yang menimbulkan gangguan pada kehamilan. Dan tentu, mayoritas perempuan tidak terbang sesering para pramugari. Alhasil, naik pesawat dan terbang adalah hal yang aman dilakukan oleh semua orang, termasuk ibu hamil.

Meskipun begitu, pada 2002, Asosiasi Dokter Kandungan Amerika mengatakan bahwa perempuan hamil yang memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes, disarankan untuk menemui dokter sebelum terbang. Jika diperbolehkan terbang, mereka juga diminta untuk berjalan secara teratur di pesawat dan rajin minum air untuk mengurasi risiko kerusakan trombosis atau pembekuan darah atau pembuluh darah tersumbat.

Namun, sekali lagi asosiasi menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa terbang bisa mengakibatkan keguguran atau kelahiran prematur. Kesimpulannya, beberapa nasihat yang kerap didengar perempuan saat mereka hamil ternyata tidak benar, tidak punya bukti ilmiah.

Jadi, jika Anda hamil, akan lebih baik jika Anda tidak makan berlebihan. Silakan terbang, jika perlu, tanpa berpikir bahwa Anda akan tiba-tiba keguguran, dan harus selalu ingat, setelah melahirkan belum tentu nyeri haid Anda akan hilang.

(Risna Nur Rahayu)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement