Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mitos-Mitos Kehamilan, Mulai dari Makan Banyak hingga Larangan Naik Pesawat

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 02 Januari 2018 |15:40 WIB
  Mitos-Mitos Kehamilan, Mulai dari Makan Banyak hingga Larangan Naik Pesawat
Ilustrasi
A
A
A

JAKARTA - Banyak yang bilang perempuan hamil akan mengalami berbagai perubahan besar dalam hidupnya. Mulai dari harus makan dua kali lebih banyak hingga tidak boleh naik pesawat. Namun, apakah ini benar? BBC Future merangkum sejumlah mitos tentang kehamilan.

Makan dua kali lebih banyak

Secara ilmiah ternyata perempuan tidak memerlukan banyak kalori tambahan tatkala hamil, bahkan pada trimester ketiga kehamilan.

Jika biasanya perempuan direkomendasikan mengonsumsi 2.000 kalori per hari, maka jika hamil mereka hanya perlu menambah 200 kalori. Jumlah itu setara dengan sebuah roti bagel atau sesendok makan mayones!

Calon ibu juga bisa tetap melanjutkan diet mereka sehari-hari, tanpa mengurangi tumbuh kembang calon bayi. Intinya, diet makanan sehat biasa -yang tentunya tidak bertujuan menurunkan berat badan- akan menguntungkan ibu dan bayi.

Dari penelitian terhadap 7.000 perempuan yang tetap melanjutkan pola makan biasa mereka ketika hamil ternyata mengalami kenaikan berat badan yang 3,84 kg lebih rendah dibandingkan dengan perempuan hamil yang mengubah pola makan.

Dalam studi ini terlihat bahwa, berat bayi baru lahir dari calon ibu dengan pola makan biasa tidak berbeda dengan ibu yang makan dua kali lebih banyak. Bahkan, makan wajar bisa mengurangi risiko preeklamsia, penyakit tekanan darah yang kerap muncul sebagai salah satu efek dari kehamilan.

Nyeri haid hilang

Banyak yang bercerita bahwa nyeri perut saat haid akan sirna setelah melahirkan. Rasa sakit yang dialami ketika haid sebenarnya berbeda-beda antara perempuan, bahkan pada sebagian perempuan yang "beruntung", yaitu yang jarang atau tidak pernah merasakan nyeri haid sama sekali.

Berdasarkan hipotesis, nyeri haid akan berkurang seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Pada 2006, sebuah tim di Taiwan melakukan penelitian pada perempuan berusia di atas 40 tahun, dan memang menemukan fakta bahwa nyeri yang mereka alami berkurang seiring penuaan, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki anak.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah sebenarnya pertambahan umur atau karena faktor melahirkan yang membuat nyeri berkurang. Untuk mencari tahu jawabannya, tim tersebut meneliti 3.500 perempuan selama delapan tahun.

Sepanjang waktu itu, ada yang melahirkan, dan mereka kemudian merasakan nyeri haidnya berkurang. Namun, kondisi ini ternyata tidak berlaku untuk semua orang. Bagi mereka yang dioperasi caesar, sebanyak 51% masih merasakan nyeri. Sementara sebanyak 35% yang melahirkan 'normal' juga masih merasakan nyeri.

Lama kehamilan ternyata juga berpengaruh. Sebanyak 77% ibu yang melahirkan bayinya secara prematur masih merasakan nyeri haid. Jadi, kesimpulannya melahirkan memang menghilangkan nyeri haid bagi sebagian perempuan, tapi tidak bagi semua perempuan.

Ilmuwan berspekulasi bahwa kelahiran normal lebih efektif mengurangi nyeri karena luka di bagian pelvis merusak saraf perasa yang terhubung dengan uterus dan otak, sehingga nyeri tak lagi terasa.

Peneliti mengungkapkan bahwa mereka yang melahirkan secara 'normal' tetapi tetap mengalami nyeri haid kemungkinan mengalami endometriosis.

Namun, sebuah asosiasi gen pada 2016 lalu menyebut bahwa faktor genetik ternyata berpengaruh pada haid. Ini berarti, jika nyeri haid Anda perih sekali dan tidak hilang-hilang setelah melahirkan, kemungkinan itu karena faktor genetika Anda.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement