Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cegah Wabah Difteri dengan Perilaku Ini

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |19:28 WIB
Cegah Wabah Difteri dengan Perilaku Ini
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
A
A
A

WABAH difteri kembali menyerang Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria ini bahkan telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), karena telah merunggut puluhan korban jiwa yang tersebar di 20 provinsi.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, sampai dengan November 2017, setidaknya terdapat 622 kasus difteri yang berasal dari 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi. Dari ratusan korban tersebut, 32 diantaranya meninggal dunia. Untuk itu, sebelum persebaran kuman ini semakin meluas, kita juga harus cepat melakukan berbagai upaya preventif untuk menanggulangi penyakit tersebut.

Menurut Nur Afiyah, salah satu dokter di Puskesmas Cipayung, satu-satunya cara efektif untuk mencegah difteri adalah dengan melakukan vaksinasi. Pemberian vaksin ini dimaksudkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia agar tidak mudah terkontaminasi kuman-kuman penyakit.

"Mau tidak mau harus divaksin karena wabah penyakit ini penularannya melalui udara. Berbicara secara langsung dengan pasien saja kita sudah bisa tertular," tutur Nur kepada Okezone, di Puskesmas Cipayung, Depok, Jawa Barat, Selasa (12/12/2017).

Di kota Depok sendiri setidaknya ada 12 kasus difteri yang dilaporkan sampai bulan November lalu. Dari 12 kasus tersebut, 4 orang dinyatakan positif dan 1 orang telah meninggal dunia.

Meski wabah difteri telah ditetapkan sebagai salah satu KLB, kesadaran masyarakat setempat untuk melakukan vaksinasi berkelanjutan dinilai masih kurang. Seperti diketahui, setidaknya ada 5 jenis imunisasi yang harus diberikan kepada balita sejak dini dan secara bertahap. Jenis imunisasi ini terdiri dari hepatitis B, polio, BCG, campak, dan Pentavalen (DPT-HB-HiB).

"Pelaksanaan imunisasi itu sebetulnya harus sampai pada umur 19 tahun. Untuk imunisasi rutin (hepatitis, campak, dsb) angkanya cukup tinggi dan telah mencapai 90%. Namun, untuk imunisasi lanjutan (khusus bayi berusia 18 - 24 bulan) angkanya memang sangat rendah, hanya 30% yang melakukan secara rutin," jelasnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement