Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLB Difteri dan Dilema Masyarakat Indonesia terhadap Vaksinasi

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |11:28 WIB
KLB Difteri dan Dilema Masyarakat Indonesia terhadap Vaksinasi
Ilustrasi (Foto: DNAindia)
A
A
A

"Banyak yang mengeluh, setelah diberi vaksin malah justru timbul panas. Contohnya di NTB, sesudah divaksinasi sang anak jadi panas dan meninggal dunia. Tapi itu sudah dibantah oleh Kemenkes, dan penyebabnya bukan karena vaksin," ujar DR Yustina Anie Indriastuti, salah satu anggota PDRC.

Baca Juga:

Berdasarkan pemaparan Profesor Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), efek samping itu muncul karena ada reaksi dari bakteri yang dilemahkan. Vaksin memang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh untuk membentuk anti-body khusus yang dapat menangkal berbagai penyakit berbahaya.

"Seseorang yang imunitasnya baik, ketika diberi vaksin kondisinya juga akan baik. Apa indicakatornya? Suhunya naik. Itu tanda vaksin merespons bahwa ada kuman yang dilemahkan. Justru kalau tidak ada reaksi sama sekali, akan membuat orang bertanya-tanya apakah dosis vaksinnya kurang. Kecuali kalau panasnya tidak berhenti-henti, itu yang harus ditindaklanjuti," tutur Endang.

Vaksin difteri haram?

Beberapa masyarakat enggan membawa anaknya untuk divaksin karena beranggapan bahwa vaksin yang diberikan tidak halal dan sesuai dalil Islam. Ini kemudian menjadi polemik di masyarakat apakah harus memberikan vaksin kepada anaknya atau tidak.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement