KEMENTERIAN Kesehatan RI telah melakukan berbagai upaya guna menanggulangi wabah difteri yang kian meresahkan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan melakukan vaksinasi secara serentak di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
Namun ternyata, penyakit yang masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) ini juga mulai menyebar di sejumlah daerah di Indonesia. Kasus difteri paling banyak ditemukan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Jumlahnya mencapai angka 46 kasus di sepanjang tahun 2017. Sedangkan total kasus difteri di Jatim sendiri berjumlah 318 kasus, dan 12 di antaranya meninggal dunia.
Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar di tengah masyarkat Indonesia, apa sebetulnya langkah yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi wabah difteri?
Sejumlah dokter telah menegaskan bahwa kasus difteri muncul lantaran minimnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi. Bukan tanpa sebab, penolakan vaksin ini ternyata dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor yang sempat menyulut pro dan kontra.
"Di samping alasan agama, kebanyakan yang saya dengar dari beberapa perdebatan, ternyata banyak yang berpikir bisa mengembangkan kekebalan tubuh secara alami jika menerapkan pola hidup sehat," tutur Tirta Prawitasari, ahli gizi dari PDRC, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin 11 Desember 2017.
Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa vaksin juga bisa menimbulkan efek samping yang dapat membahayakan jiwa pasien.