"KITA berada di Indonesia tapi justru mati-matian cari barang di luar negeri dengan harga mahal. Menurut saya itu sama saja tidak menyukuri bahan-bahan yang ada di Indonesia," -Talita Setyadi, Pastry Chef.
Tumbuh dan besar di Swiss tidak membuat Talita Setyadi lupa akan Indonesia. Pindah sejak umur 9 tahun, selama 15 tahun di luar negeri, ia pun kembali ke Tanah Air tercinta setelah berusia 24 tahun dan membuat sebuah terobosan baru di bidang pembuatan kue atau pastry.
Chef Talita, begitu ia disapa kini, dulunya adalah seorang wanita yang menyukai musik hingga memilih fokus studi Jazz Performance on Double Bass untuk gelar S1-nya di New Zealand. Ceritanya hingga menjadi seorang chef berawal dari hobi iseng-isengnya yang gemar membuat makaron.
"Dulu tuh sebenernya aku cuma iseng-iseng suka bikin makaron, belajar lewat Youtube," ucapnya sambil tersenyum ketika diwawancarai Okezone, Selasa (17/10/2017) di Almond Zuchinni, Jakarta.
Sewaktu menggeluti hobi membuat makaron, Talita hanya mendapatkan ilmu dan pengetahuan membuat kue dari video-video yang ada di Youtube. Lalu, setelah lulus dirinya semakin tertarik untuk membuat kue.
Ketika membagikan ceritanya pada Okezone, Talita mengaku dirinya sering membagikan kue yang ia buat untuk teman-temannya saat latihan band. Wanita yang memiliki wajah oriental ini juga mengatakan, dirinya suka melihat orang-orang bahagia dengan menunjukkan wajah berbinar setelah memakan kue bikinannya.
"Dulu saya hanya suka membuat kue dan membagikan pada teman-teman. Tapi, lama-lama saya senang melihat orang bahagia dengan wajah yang berbinar-binar setelah makan kue yang saya buat," ucapnya.
Teman-teman saya bertanya cara membuat kue dan dari situ Talita sadar ternyata ia juga menaruh passion pada membuat kue, merasa senang bila melihat orang bahagia dan tersenyum. Ia juga merasa membuat kue sama seperti bermusik, harus kreatif, bisa membuat orang bahagia dan mampu menghibur orang lain juga.
"Karena aku merasa membuat kue ternyata sama seperti musik yang bisa membuat orang bahagia, jadi ku putuskan untuk mendalami pembuatan kue. Aku pun memilih Perancis untuk sekolah kue. Tahun 2010 aku berangkat dan 2011 aku selesai belajar," ungkap Talita.
Wanita yang tampak aktif ketika mengajar di workshop Creamlicious Day 2017 ini pun memiliki misi yang mulia untuk Indonesia. Ia banyak membuat resep-resep kue dari bahan-bahan asli Indonesia, seperti gula jawa, asam jawa, pisang ambon, pisang kepok, pandan, kelapa dan lainnya, yang belum pernah ia coba untuk membuat kue. Selain menggunakan bahan-bahan asli Indonesia, Talita juga selalu menggunakan bahan-bahan yang alami untuk kue-kuenya.
"Menurut saya, tampilan dan rasa tidak harus terpisah, itu semua bisa menyatu. Misal, ketika kita melihat kue berwarna kuning maka kita juga bisa merasakan jeruk di dalamnya, dan ketika melihat kue berwarna merah, kita juga bisa merasakan stoberi atau rasberi di dalamnya," ucapnya.
Dalam kue-kue yang dibuatnya, Talita tidak menggunakan pewarna makanan. Ia menggunakan bahan-bahan yang alami seperti buah-buahan untuk memberi warna pada kuenya. Seperti buah bit untuk memberikan warna merah pada kue Pure Love Best Velvet yang ia ajarkan pada peserta workshop di acara Creamlicious Day 2017 kali ini.
Selain membuat kue velvet, Talita juga membuat Breakfast Cake yang terbuat dari bahan-bahan asli Indonesia, seperti pisang ambon dan gula jawa. Ia berpendapat dengan menggunakan bahan-bahan asli Indonesia, dirinya dapat membuat kue yang berbeda.
"Sebagai orang yang kreatif dan seniman kita harus menggunakan segalanya yang ada di sekitar, dengan cara itu juga kita bisa membuat sesuatu yang berbeda dan menjadikan kita otentik," ucapnya.
Lebih jauh, Talita yang telah menciptakan ratusan resep yang menggunakan bahan asli Indonesia ini juga mengatakan, tidaklah baik ketika kita berada di Indonesia, tapi justru mati-matian mencari bahan dari luar negeri dengan harga yang mahal. Padahal, di Indonesia banyak terdapat bahan-bahan yang belum dikreasikan.
"Kan nggak lucu, kita berada di Indonesia tapi justru mati-matian cari barang di luar negeri dengan harga mahal. Menurut saya itu sama saja tidak menyukuri bahan-bahan yang ada di Indonesia," ucapnya semangat.
Menurut Talita dengan menggunakan bahan-bahan Indonesia, para chef Indonesia juga dapat membantu menstimulasi ekonomi, mengenalkan bahan-bahan lokal pada konsumen, dan sebagai bentuk cinta serta bangga pada bangsa sendiri, yaitu Indonesia. Hal yang lebih membanggakan dari wanita yang telah menghabiskan waktunya selama 15 tahun di luar negeri ini lainnya, yaitu ia bersama tim Indonesia berhasil lolos ke babak final dalam kompetisi kue dunia.
"Pada Januari 2017, aku bangga karena kami dapat mempresentasikan kue yang berbahan asli Indonesia di Prancis. Tim Indonesia masuk ke babak final di World Pastry Championship dunia setelah 30 tahun kompetisi itu berjalan dan saya sangat bangga," ucap Talita dengan wajah berbinar-binar.
Talita yang mengemban tugas sebagai presiden tim Indonesia, berhasil membawa tim ke babak final dalam acara World Pastry Championship yang diadakan di Prancis pada Januari 2017 lalu. Dengan membawa bahan-bahan asli Indonesia seperti buah pala, kopi dan cokelat asli Indonesia, Talita dan tim chef Indonesia lainnya berhasil mengenalkan cita rasa dan kebudayaan asli Indonesia ke hadapan masyarakat dunia.
(Dinno Baskoro)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.