Advertisement
Advertisement

Pemerintah Perpanjang Imunisasi Massal Campak dan Rubella, Mengapa?

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 04 Oktober 2017 |23:48 WIB
Pemerintah Perpanjang Imunisasi Massal Campak dan Rubella, Mengapa?
A
A
A

Selain untuk anak-anak WNI, Jane mengatakan program vaksinasi ini juga harus diikuti anak-anak warga negara asing yang bersekolah dan tinggal di Indonesia, yang tidak terjangkau ketika program berlangsung pada Agustus-September lalu karena libur sekolah.

Dia memastikan vaksin yang digunakan dalam program ini juga sudah memenuhi standar internasional, antara lain masalah penyimpanannya.

Kementerian Kesehatan mengatakan penolakan terhadap program vaksinasi ini sudah diperkirakan sejak awal. Bahkan secara global diperkirakan Indonesia tidak akan mencapai target cakupan 95%.

(Baca Juga: Dampak Komplikasi Campak & Rubella Mematikan, Anak Lebih Baik Divaksin MR Sebelum Menyesal)

"WHO itu kan menargetkan dunia akan eliminasi campak 2020. Semua negara dipetakan, mana yang belum, dan yang sedang melaksanakan itu dibantu, dan diperkirakan enam negara gagal, termasuk Indonesia karena maraknya penolakan, tapi secara nasional kita sudah berhasil di atas 95%," kata Jane.

Kekebalan lingkungan

Immunization Specialist Unicef Indonesia, dr Kenny Peetosutan, mengatakan cakupan minimal 95% dalam program vaksinasi dibutuhkan untuk menciptakan herd community atau kekebalan lingkungan.

"Campak dan rubella itu tidak ada obatnya dan hanya bisa dicegah dengan vaksinasi campak dan rubella, dengan tercapainya herd community. Jadi dalam satu lingkungan itu persentase anak yang divaksinasi tinggi itu virus yang disebar itu bisa distop," kata Kenny.

Dia menjelaskan campak masih merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, sedangkan rubella akan menyebabkan kecacatan pada janin jika terkena pada ibu hamil.

"Campak bisa menyebabkan kematian itu karena komplikasinya bayi mengalami gangguan pendengaran, gangguan pada perkembangan otak, anaknya bisa terbelakang dan bisa lumpuh syarat motoriknya," jelas dia.

(Baca Juga: 4 Sekolah Tolak Imunisasi Measles Rubella, Dalilnya Bahan yang Digunakan Haram)

Pada 2018, program imunisasi massal ini akan dilakukan di luar Pulau Jawa. Kenny menyatakan pemerintah sebaiknya mempersiapkan pelaksanaan imunisasi di luar Pulau Jawa dari sekarang untuk mencegah penolakan dengan memberikan edukasi tentang bahaya penyakit campak dan rubella.

Dari data Kementerian Kesehatan antara 2010-2015 terdapat 23.000 kasus campak dan 3.000 kasus rubell.

Tetapi Kenny menyatakan perkiraan jumlah kasus campak dan rubella bisa jadi lebih tinggi karena tidak dilaporkan. Di Asia Tenggara dan Afrika, kasus baru rubella mencapai 120.000 setiap tahun.

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement