Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melawan Stigma, Pasien Hepatitis Masih Sering Menerima Diskriminasi Sosial

Utami Evi Riyani , Jurnalis-Jum'at, 29 September 2017 |18:22 WIB
Melawan Stigma, Pasien Hepatitis Masih Sering Menerima Diskriminasi Sosial
Ilustrasi (Foto: Healthylifestyle)
A
A
A

Menurutnya, stigma yang diterima penderita hepatitis B dan C tidak adil karena tidak memberikan kesempatan yang cukup pada orang yang seharusnya bisa mendapatkan kesempatan sama.

Hal senada juga disampaikan oleh Dr. dr. Kasyunil Kamal, M.S, Sp.OK dari Perhimpunan Dokter Spesialis Okupasi (PERDOKI). Ia mengatakan bahwa skrining hepatitis B dengan HBsAg bukanlah parameter yang harus dilakukan saat rekruitmen.

“Sudah ada Surat Edaran dari Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan tahun 1997 tentang Peniadaan hepatitis B dalam pemeriksaan kesehatan tenaga kerja,” ujar Dr. dr. Kasyunil.

Menurutnya, selama tidak ada peradangan, penderita hepatitis masih dapat bekerja seperti biasa. Apalagi untuk pekerjaan kantoran, seharusnya tidak memerlukan pemeriksaan HBsAg.

“Tidak ada alasan orang hepatitis tidak diterima kerja karena penyakitnya lebih parah,” pungkas Dr. dr. Kasyunil.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement