DI barber shop, biasanya terdapat pelayanan selain mencukur rambut, salah satu satunya adalah pijat kepala. Seringkali, pijat kepala diakhiri dengan meng'kretek' leher, saat tukang cukur memegangi dagu dan seperti gerakan 'mematahkan' leher dengan cepat ke kiri dan ke kanan.
Di India, hampir semua tukang cukur melakukan hal tersebut. Namun, Anda perlu tahu bahaya di balik sering meng'kretek leher. Ajay Kumar, pria India berusia 54 tahun, keluar dari barber shop dengan perasaan segar setelah potong rambut dan pijat bulan lalu. Tak lama kemudian, ia menjadi semakin sesak napas.
(Foto: Indiatimes)
Ternyata meng'kretek leher telah merusak saraf frenikalnya yang mengendalikan diafragma, di mana pada akhirnya juga mengontrol pernapasan. Kini, Kumar yang seorang karyawan PSU, harus memakai ventilasi mekanik (alat pernapasan bertekanan negatif atau positif. yang dapat mempertahankan ventilasi dan pemberian oksigen dalam waktu yang lama)
"Dia telah menggunakan ventilasi non-invasif untuk menyokong pernapasan dan mungkin terus berlanjut," kata Dr Anand Jaiswal, director of respiratory and sleep medicine di Medanta, yang dikutip dari Timesofindia, Jumat (22/9/2017).
Dr Anand Jaiswal mengatakan, diafragma Kumar lumpuh dan mungkin memerlukan dukungan ventilator sepanjang hidupnya, karena saraf jarang kembali secara spontan. Karena itu, Dr Anand Jaiswal memperingatkan orang-orang agar tidak memijat lehernya saat ke barber shop.
"Pijat leher dan tengkuk leher yang dilakukan tukang pangkas rambut dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada sendi leher dan jaringan sekitarnya, otot atau saraf, bahkan menyebabkan kelumpuhan diafragma seperti dalam kasus ini," imbuh Dr Anand Jaiswal.
Ketidaknyamanan sering dikaitkan dengan tidak berfungsinya jantung atau paru-paru. Ketika Kumar datang ke Medanta dengan masalah tersebut sekira 1 bulan yang lalu. Dokter mengatakan bahwa mereka melakukan serangkaian tes untuk mendiagnosis masalah tersebut saat merawatnya, karena dugaan penyebab lain. Ketika masalah berlanjut, mereka melihat literatur medis untuk mendapatkan petunjuk.
"Saat memeriksanya, kami melihat Kumar memiliki pola pernapasan yang paradoks. Dadanya bergerak ke arah dalam, bukannya melebar. Gerakan dada yang abnormal ini memengaruhi pola pernapasan dan menyebabkan penurunan kadar oksigen di darah," jelas Dr Anand Jaiswal.
"Ketika kami menyelidiki kemungkinan penyebab bernapas paradoks, pemeriksaan neurologis menunjukkan, Kumar menderita saraf frenik yang rusak. Karena dia tidak memiliki penyakit lain untuk menjelaskannya, dan literatur memiliki beberapa contoh tentang keretakan leher yang menyebabkannya. Masalahnya, kami menanyai Kumar dan mendapati bahwa pijatan leher yang menyebabkan kondisi ini," tambah Dr Anand.
Di Indonesia sendiri, tidak jarang menemukan pelanggan seperti Kumar yang suka memotong rambut dengan pijatan dan meng'kretek' leher. Namun, tidak banyak orang yang tahu akan bahaya dari pijatan leher diakhiri dengan meng'kretek'.
Dr Shakir Husain, direktur klinik stroke dan neurovaskular di rumah sakit Neo, mengatakan bahwa pijat leher ini juga dapat menyebabkan pembedahan arteri vertebralis. "Jika pembedahan atau robeknya kecil, itu akan sembuh secara alami. Pengencer darah harus diberikan selama 2 sampai 3 bulan. Tapi, dalam beberapa kasus, operasi harus dilakukan untuk membersihkan aneurisma akibat robekannya," tuturnya.
Kerusakan pada arteri saat meng'kretek leher juga terlihat pada pasien yang memilih terapi chiropractic untuk masalah muskuloskeletal. "Hal ini dapat menyebabkan stroke atau fatalitas," pungkas ahli bedah saraf senior tersebut.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.