BAGI penikmat kopi, sudah tentu tahu berbagai jenis kopi yang ada di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, kita memiliki kopi khas masing-masing daerah. Kondisi alam yang tropis membuat kopi dapat tumbuh subur dan menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi para petaninya.
Nah di Papua, yang terkenal adalah kopi Wamena. Sejenis kopi Arabika ini tumbuh subur di wilayah ketinggian sekitar 15.000 kaki dari permukaan laut dengan suhu 20–25 derajat celsius. Kopi-kopi ini merupakan kopi yang diklaim memiliki kualitas terbaik, dengan kandungan kafein yang sedikit. Kopi Wamena memiliki aroma yang wangi dan khas, bertekstur soft, serta bagi penikmat kopi, kopi Wamena juga memiliki after taste (rasa yang muncul setelah minum kopi) yang manis.
BACA JUGA:
Tempat budidaya kopi di Wamena salah satunya di Kampung Tagulik Distrik Bugi Kabupaten Jayawijaya. Dikampung ini, hampir seluruh warganya bertani kopi, selain umbi betatas sebagai makanan pokok warga setempat.
Penanaman kopi di kampung ini masih sangat tradisional. Berbekal alat pertanian seadanya, berbekal tanah yang subur, membuat petani hanya melakukan pembersihan di sekitar tanaman, tanpa ada pemupukan.
Pengelolaannya pun juga masih sangat tradisional, dari panen, pengupasan dan produksi, warga hanya menggunakan alat alakadarnya, tanpa ada mesin penggiling. Namun, sekira dua tahun terakhir, budidaya kopi di wilayah Wamena Kabupaten Jayawijaya, termasuk juga di wilayah lain di pegunungan Papua, mulai ada perhatian pemerintah dan pihak lain dengan pemberian bantuan mesin penggiling biji kopi.
Sili Gombo Ketua kelompok Tani Kopi di Kampung Tagulik Distrik Bugi Kabupaten Jayawijaya yang merupakan petani kopi binaan Kodim 1702/Jayawijaya salah satunya, mengharapkan jika kopi hasil panen masyarakat di kampungnya tersebut dapat dijual hingga keluar negeri.
“Selama ini ya dengan bantuan pemerintah daerah dan pihak lain seperti TNI/Polri, kami mengolah biji kopi dan menjualnya di berbagai swalayan yang ada di Wamena,” kata Sili.
“Sementara, untuk menjual hingga keluar daerah hingga sampai keluar negeri, kami belum bisa lakukan,”tambahnya.
Atas hal itu, dirinya bersama para petani kopi di wilayah tersebut, meminta pemerintah daerah untuk memberikan jalan distribusi hingga kopi Wamena yang gaungnya sudah luas tersebut, bisa di jual di pasar internasional.
“Ya paling ada yang membeli kopi kami terus menjualnya di luar sana, tapi dari kami sendiri belum ada. Kalau bisa kami juga di ajari untuk jual keluar sana,”ujarnya.
Keberadaan kopi Wamena menggelitik Direktur Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Agus Andiyani. Dirinya bersama jajaran PT. PPI (Persero) didampingi Dandim Jayawijaya, Letkol Inf. Lukas Sadipun terjun langsung melihat pertanian kopi di wilayah Kampung Tagulik Distrik Bugi Kabupaten Jayawijaya pada Kamis (14/9/2017) kemarin.
Agus yang juga menjadi tim kopi Indonesia ini juga melihat langsung kualitas kopi di Wamena. Kehadiran pihak PT. PPI (Persero) ini sudah pasti membawa angin segar untuk Sili Gombo dan petani kopi lain.
“Kami sangat berterimakasih atas kedatangan Bapak direktur PPI, harapan kami, kopi Wamena sebagai produk unggulan di Wamena bisa dibantu pengelolaannya dengan benar dan profesional sehingga dapat distandarkan dengan kopi luwak yang dapat merebut pangsa pasar kopi dunia,”harapnya.
Sementara itu, Direktur PPI Jakarta Agus Andiyani berjanji akan semaksimal mungkin membantu meningkatkan penjualan/pemasaran kopi yang ada di Wamena dan sekitarnya.
"Kami dari PPI Jakarta yang merupakan perusahaan dibawah Kementrian Perdagangan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu dan mendorong para petani kopi dimanapun di seluruh indonesia, agar lebih meningkatkan produksi dan kualitas kopi daerahnya sehingga dapat di ekspor ke luar negeri,”katanya.
Dari beberapa tempat selain Distrik Bugi yang dikunjungi seperti Distrik Yagara, Distrik Kurulu, Wolo, Kimbim dan kampung piramid. Rombongan melihat langsung cara pengolahan kopi yang dimulai dari panen hingga proses produksi.
"Masih banyak petani kopi di wamena ini yang sampai saat ini masih menggunakan cara tradisional, walaupun sudah ada juga yang telah menggunakan alat modern. Hal ini akan kita sampaikan kepada pemerintah pusat agar para petani kopi di daerah mendapatkan bantuan alat pengolahan kopi yang lengkap hingga menjadi kopi siap jual", ujar Agus.
BACA JUGA:
Sekedar informasi, di wilayah Papua, tidak hanya di Wamena Kabupaten Jayawijaya yang membudidayakan Kopi, namun juga di wilayah pegunungan Papua lain, seperti Kabupaten Dogiyai Papua. Sama dengan di Wamena, kopi di Dogiyai, yang juga diberikan brand Kopi Dogiyai ini, juga dikembangkan secara tradisional dan organik, meski gaungnya tak setenar Kopi Wamena, namun kopi Dogiyai juga memiliki cita rasa khas yang tidak kalah nikmat dari Kopi Wamena.
(Dinno Baskoro)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.