Selain itu memuat nilai ceremony adat yang dibuat dengan kesungguhan. “Pembuatan kain itu melibatkan banyak perajin. Saya menyebut ini (kain lurik) sebagai kain peradaban karena memuat banyak cerita. Bukti peradaban bangsa kita,” lanjut Edo. Namun, yang membuat ia trenyuh dan sedih, yakni kebanyakan perajin adalah para orang tua berusia lanjut atau renta.
“Banyak tangan renta di sana. Yang paling menyedihkan ketika seorang ibu yang saya temui 6 tahun lalu, dan terakhir saya ke sana matanya sudah buta, dan dia bisa mengenali saya dari gelang tangan,” imbuhnya.
Untuk itu, fashion show dan pameran kali ini pun digunakan Edo agar makin banyak kaum muda yang sadar dan peduli keberlangsungan lurik Indonesia. Dengan kata lain, ada regenerasi. Karena itu, tidak terhenti di tangan-tangan renta saja. Dominan perajin renta pun diakui salah satu pengusaha Lurik Kurnia, Afrian Irfani. “Rata-rata perajin memang sudah sepuh umurnya, 60 tahun ke atas. Ada yang 85 tahun,” ujar Afrian.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.