MELENGGANG dengan penuh percaya diri, kini kain lurik tidak lagi dikenal sebagai pakaian khas warga pedesaan suku Jawa.
Lewat tangan dingin Edward Hutabarat, kain lurik disulap menjadi karya serbaguna dengan nilai tinggi penuh gaya kekinian.
Bertajuk “Tangan-tangan Renta Lurik Indonesia”, Edward yang akrab dipanggil Edo, kembali menuangkan inspirasinya terhadap kain lurik yang sudah dipelajari selama tujuh tahun di Klaten dan Yogyakarta. Edo menyajikan puluhan koleksi terbarunya lewat busana ready to wear wanita dan pria dengan potongan modern, dilengkapi aksesori seperti topi dan tas.
Kain bermotif garis-garis kecil terlihat hadir dengan warna-warni yang lebih cerah, seperti kuning, biru, merah muda, dan merah. Akan tetapi, paduan warna gelap seperti abu-abu, hitam, krem, dan cokelat pun tetap dimunculkan dengan gaya sederhana namun tetap mewah.
Seperti yang terlihat dalam busana wanita, Edo menampilkan lurik dengan sangat stylish mulai maxi dress, jumpsuit dengan backless, coat lebar, hingga blouse . Detail pita di pinggang dan rampel flow pun mempercantik balutan kain lurik yang cocok digunakan untuk musim panas.
(Baca Juga: Mengenal Kain Lurik Lewat Ajang Fashion Show)
Terlebih dengan paduan topi lebar bermotif lurik khas pantai sehingga membuat pakaian tersebut lebih santai. Untuk pria busana lebih didominasi dengan coat panjang yang terlihat seperti kimono.
Ada pula atasan dan celana longgar yang dipadukan dengan outer pendek dengan warna yang beda. Untuk menjadikan kain garis-garis kecil terlihat indah, Edo memang bermain sangat detail. Bagaimana ia menunjukkan potongan yang tepat dan unik meskipun harus ditumpuk dengan pakaian garis kembali. Permainan kancing besar pun mempermanis balutan busana pria dan wanita. Bukan hanya menyatukan garisgaris menjadi busana kelas atas.
Keterampilan Edo mengolah kain lurik pun tertuang di busana dengan teknik tabrak. Dalam arti ketelitian, Edo teruji lewat potongan kain lurik yang dipotong kecil-kecil, lalu digabungkan seperti kain perca dengan warna berbeda yang cenderung berkesan ceria. “Invasion and living for international , gimana lurik tangan renta siap bersaing di dunia, ketika digabungkan dengan merek lain, lurik akan jadi main course -nya, sedangkan merek itu jadi dessert ,” sebut Edo.
(Baca Juga: Kreatif dengan Kain Lurik, Bohemian Look Hingga Gaya Urban Kekinian)
Selain fashion show, Edo pun telah membuat pameran “Tangantangan Renta” di pelataran Ramayana Hotel Indonesia Kempinski pada 25-28 Agustus lalu untuk membuat lurik lebih akrab di mata masyarakat.
Dalam pameran tersebut, Edo menawarkan sisi lain lurik yang ternyata bisa menjadi bagian dari living dan fashion. Dengan kata lain, inspirasi yang dituangkan Edo dalam kain lurik bukan hanya terlihat dalam bentuk busana dengan potongan kekinian. Namun, juga produk lainnya seperti bantal kursi, bantal duduk, topi, tas hingga seprai terlihat sangat cantik dengan paduan kain lurik dengan bentuk lebih modern.
Bukan hanya itu, sejumlah fotografi dan video yang memuat bagaimana para perajin lurik tetap menjaga dan menghasil kain peradaban dengan sepenuh hatinya. Edo memang ingin memberikan pengalaman tentang cerita singkat di balik para perajin yang membuat lurik.
Rekaman visual yang merangkum pengalaman rasa Edo selama tujuh tahun terakhir dengan pembuat lurik dari daerah Klaten dan Yogyakarta. Edo mengakui, lurik merupakan salah satu kain peradaban Indonesia karena bukan sekadar lembaran kain cantik.
(Baca Juga: Dengan Kain Lurik, Ayunya Vicky Shu saat Lakukan Prewedding)
Selain itu memuat nilai ceremony adat yang dibuat dengan kesungguhan. “Pembuatan kain itu melibatkan banyak perajin. Saya menyebut ini (kain lurik) sebagai kain peradaban karena memuat banyak cerita. Bukti peradaban bangsa kita,” lanjut Edo. Namun, yang membuat ia trenyuh dan sedih, yakni kebanyakan perajin adalah para orang tua berusia lanjut atau renta.
“Banyak tangan renta di sana. Yang paling menyedihkan ketika seorang ibu yang saya temui 6 tahun lalu, dan terakhir saya ke sana matanya sudah buta, dan dia bisa mengenali saya dari gelang tangan,” imbuhnya.
Untuk itu, fashion show dan pameran kali ini pun digunakan Edo agar makin banyak kaum muda yang sadar dan peduli keberlangsungan lurik Indonesia. Dengan kata lain, ada regenerasi. Karena itu, tidak terhenti di tangan-tangan renta saja. Dominan perajin renta pun diakui salah satu pengusaha Lurik Kurnia, Afrian Irfani. “Rata-rata perajin memang sudah sepuh umurnya, 60 tahun ke atas. Ada yang 85 tahun,” ujar Afrian.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.