Ibu Yukunda baru memulai usaha caffenya itu karena peluang bisnis jualan 'si mutiara hiram' itu cukup menjanjikan. Betapa tidak persediaan kopi arabica dan colombia sebagai dagangan utamanya itu selalu habis dalam dua pekan.
"Ya dalam sebulan saya harus empat kali datangkan kopi dari para petani di Manggarai," ungkapnya.
Kopi yang dibelinya dari petani itu oleh warga asli di Manggarai, langsung diproses hingga menjadi bubuk.
Sejak awal mengolahnya dari memetik, menjemur, menggorengnya hingga menjadi bubuk dilakukan dengan keaslian tradisi warga di Manggarai. Pola pengolahan dengan keaslian itulah yang membuat nikmatnya beda dengan yang dibuat di tempat lainnya.
Untuk mendapatkan kenikmatan di setiap sentuhan bibir para penikmat kopi, penyajiannya dilakukan dengan merebusnya. "Kita merebus kopinya tidak dengan seduhan air panas saja seperti adanya. Tetapi menggunakan cara merebusnya," katanya membuka rahasia sajian kopi di caffe itu.
Konon kopi Manggarai yang nikmat itu pertama kali diperkenalkan ke Manggarai, Flores, oleh pemerintah kolonial Belanda dengan sistem tanam paksa pada 1920-an.
Sistem itu dengan cepat melahirkan perkebunan kopi terluas se-Manggarai Raya. Letaknya di Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur.
Wilayah dataran tinggi yang diselimuti kabut ini terbukti sangat cocok digunakan sebagai perkebunan kopi. Bahkan dari catatan sejarah pada 1937, petani setempat memenangi sayembara Pertandingan Keboen Kopi yang digelar oleh Pemerintah Kolonial. Hamparan kebun di Colol mendapat nilai tertinggi dalam kesesuaian penanaman dan perawatannya. Pemerintah Belanda kemudian menganugerahi selembar bendera tiga warna pada para petani atas keberhasilan mereka membudidayakan kopi.
Dataran tinggi Colol ibarat surga kopi. Hamparan kebun nan luas dengan butiran kopi yang melimpah di tiap pohonnya. Kondisi itu lantas mendesak Belanda memperkenalkannya sebagai kopi Flores kepada dunia. Hasil panen yang melimpah di era penjajahan membuat pemasaran kopi meluas ke sejumlah Eropa.
Meskipun saat ini setelah puluhan tahun kolonialisme Belanda hengkang dari Indonesia, perkebunan kopi di Flores tidaklah meredup. Bahkan nikmatnya kopi Manggarai itu pun ikutan mendunia.
Sembari menikmati alunan pelan sejumlah tembang lawas nan wals persembahan Lionel Richie dengan tembang 'Stuck On You', Erick Klapton dengan alunan 'Wonderfull Tonight', Michael Bolton dengan 'When a Man Loves a Women', Bon Jovi dengan lantunan "Thank You For Loving Me' serta sejumlah alunan lainnya, seruput cangkir arabica dan columbia pun berakhir.
Memang, nikmatnya kopi Manggarai, ternyata telah melupakan hari dalam detikan waktu yang terus larut. Saya pun harus berlalu, untuk kembali lagi di saat mana niat memburu nikmatnya kopi Manggarai di 'Canai Caffe'.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.