Pada 2010 Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal mencangkan gerakan untuk membangkit gairah menanam dikalangan masyarakat petani melalui skema pemberian bibit kopi dan pupuk, namun hal ini belum juga mampu meningkatkan gairah menanam karena, petani belum mampu membiayai kegiatan menanam dan merawat kopi secara penuh waktu. Generasi-generasi petani pada era itu sudah kehilangan keterampilan budidaya kopi yang dimiliki generasi tua saat itu.
(Foto: Erie Prasetyo/Kontributor Okezone)
Akhir tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal kembali mencangkan gerakan yang sangat serius dengan menggandeng beberapa LSM seperti Sumatra Rainforest Institute (SRI), Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) untuk turut turun ke masyarakat dalam rangka bahu membahu mendorong percepatan pertumbuhan lahan-lahan kopi yang pada gilirannya percepatan produksi biji kopi.
“Dulu kopi Madina sempat jadi termahal karena kualitas dan kenikmatannya. Saat ini beberapa kelompok tani dan Koperasi Petani telah muncul sebagai wadah bagi petani kopi mandailing. Dengan pendampingan yang kita lakukan bersama, saya yakin Kopi Madina bisa kembali eksis di Mancanegara,” pungkas Rasyid.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.