Kopi (Mandheling coffee) yang saat ini sedang naik daun, ternyata sempat terpuruk pada 1980-1985. Kondisi itu diperparah dengan dicanangkannya program penanaman pohon kayu manis, di daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Tapanuli Selatan.
Menurut data dari salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Sumatera Rainforest Institute (SRI) yang saat ini membuat program pertanian kopi bersama para petani di Madina, pada tahun 1833, Kolonial Belanda yang memasuki daerah Mandailing menemukan lokasi pegunungan yang sangat sesuai untuk ditanami komoditi kopi unggulan.
(Foto: Erie Prasetyo/Kontributor Okezone)
Lalu pada 1835, perusahaan NHM milik Raja Willem 1 mulai menggerakan roda ekonomi di komoditas produksi perkebunan kopi dengan pembibitan dan penanaman skala besar sebanyak 2.800.000 batang kopi di Madina. Lokasi pertanian kopi kala itu berada di pegunungan Pakantan, Ulu Pungkut, Kotanopan, Puncak Sorik Merapi dan Batang Natal.
“Kala itu kopi Madina sudah mendunia hingga ke benua Amerika, Asia, Jazirah Arab dan Eropa. Tentunya saat itu petani juga senang karena permintaan kopi tinggi,” ujar Direktur SRI, Rasyid Assaf Dongoran di Kota Medan, belum lama ini.
Dia menjelaskan kopi Madina adalah kopi arabika yang berasal dari daerah dataran tinggi Mandailing yang secara administrasi dan geofrafis di Kabupaten Madian, Sumatera utara.
keunggulan kopi mandailing karena mempunyai citarasa kekentalan yang bagus, keasaman medium, rasa floral dengan akhir rasa yang manis. Keunggulan kopi itu karena kualitas tanah dan berbagai kombinasi hutan menyebabkan kopi Mandailing menjadi sangat nikmat.
“Dari berbagai artikel yang kita peroleh, dari tahun 1840 hingga 1920 kopi mandailing adalah kopi paling bagus dan termahal di pasar internasional,” tambahnya.
Namun kejayaan kopi Mandailing jatuh setelah Indonesia merdeka, perhatian pemerintah terhadap kopi mandailing semakin berkurang, kopi-kopi yang ditanam tidak terpelihara dengan baik dan hanya sebagian masyarakat petani melanjutkan kegiatan menanam
Kemudian pada 1980-1985, pemerintah pusat mencanangkan program menanam pohon kayu kulit manis dan hal ini menyebabkan banyak sekali pohon kopi-kopi tua ditebang dan diganti dengan kayu manis. Pada saat itu, Mandailing Natal masih merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Krisis moneter pada 1998-2000 semakin membuat petani petani tidak mampu bangkit dan banyak yang meninggalkan pertanian kopi.
Pada 2010 Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal mencangkan gerakan untuk membangkit gairah menanam dikalangan masyarakat petani melalui skema pemberian bibit kopi dan pupuk, namun hal ini belum juga mampu meningkatkan gairah menanam karena, petani belum mampu membiayai kegiatan menanam dan merawat kopi secara penuh waktu. Generasi-generasi petani pada era itu sudah kehilangan keterampilan budidaya kopi yang dimiliki generasi tua saat itu.
(Foto: Erie Prasetyo/Kontributor Okezone)
Akhir tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal kembali mencangkan gerakan yang sangat serius dengan menggandeng beberapa LSM seperti Sumatra Rainforest Institute (SRI), Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) untuk turut turun ke masyarakat dalam rangka bahu membahu mendorong percepatan pertumbuhan lahan-lahan kopi yang pada gilirannya percepatan produksi biji kopi.
“Dulu kopi Madina sempat jadi termahal karena kualitas dan kenikmatannya. Saat ini beberapa kelompok tani dan Koperasi Petani telah muncul sebagai wadah bagi petani kopi mandailing. Dengan pendampingan yang kita lakukan bersama, saya yakin Kopi Madina bisa kembali eksis di Mancanegara,” pungkas Rasyid.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.