"Koleksi ini sebenarnya akulturasi budaya. Biasanya orang sana senang kalau budaya mereka juga masuk di koleksi busana. Jadi, ini akan bercerita tentang karakteristik masyarakat New York dengan akulturasi budaya Indonesia," terang Dian.
Sejumlah 12 outfit merepresentasikan empat karakter manusia yang berbeda, yakni melankolis, sanguinis, kolerik, dan plegmatis. Perbedaan karakter akan terlihat dari permainan warna, mulai dari sentuhan warna pastel untuk yang melankolis hingga berani tabrak warna untuk karakter kolerik.
Berikutnya, Barli Asmara, yang mengangkat tema pada abad ke-18 di mana sosok wanita bernama Marie Antoinette masih berjaya. Dan, bukan Barli Asmara namanya bila tidak menampilkan koleksi busana dengan detail yang cantik. Bertajuk 'Canities Subita', 12 outfit akan bermain pada detail unsur tali, korset, kancing bungkus, ruffle, hingga over long sleeves khas busana wanita zaman klasik.
"Over long sleeves akan menjadi tren di tahun 2018, tapi aku kembangkan untuk koleksi ini dengan lebih modern. Kemudian, unsur payet dikurangi. Sebagai pelengkap, nanti para model akan pakai alas kaki model sleepers yang nyaman dan sempat in di era bangsawan sekarang jadi tren mode lagi," tutur Barli Asmara.
Selain Dian Pelangi dan Barli Asmara, ada pula Catherine Njoo. Catherine akan mengangkat batik prada Bali yang berhiaskan payet, manik-manik, dan bordir emas bergambar tarian Leging. Koleksi busana bersentuhan feminin dengan aksen kerah shanghai tersebut akan disempurnakan dengan headpiece handmade milik Grace Lim.