KHASANAH wastra Nusantara atau kain tradisional Indonesia memang sungguh beragam. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki kain khas tersendiri, begitu pula dengan kain tenun.
Berbeda dengan kain batik, tenun merupakan teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip sederhana, yakni menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Atau dengan kata lain tenun dihasilkan dari bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian. Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya.
Yang membedakan kain tenun dan songket, yaitu teknik pembuatan, lama pengerjaan, dan alat yang digunakan. Secara umum, kain songket dibuat dari benang pakan dan lungsin yang posisinya bebas dan terletak mendatar pada bahan kain. Sementara, tenun benang lungsin dibuat dalam posisi tegak lurus atau vertikal pada selembar kain.
Hadir dengan beragam warna, corak, dan ciri khasnya kain tenun bisa semakin memperkaya budaya Indonesia. Yuk, kenal lebih dekat dengan kain tenun Indonesia, sebagaimana dirangkum Okezone dari berbagai sumber.
Kain Tenun Enggak Boleh Terlalu Sering Dicuci! Ini Alasannya
Sambut Lebaran, Kain Tenun Bisa Membuat Tampilan Anda Outstanding!
Tenun Tanimbar
Salah satu kain tenun yang terkenal berasal dari sisi timur Indonesia. Adalah tenun ikat Tanimbar dari wilayah Tanimbar di Maluku Tenggara Barat. Tenun asal Tanimbar memiliki ciri khas di mana corak dan motifnya menggambarkan aktivitas, kebiasaan, serta adat istiadat yang berlaku di kawasan tersebut.
Pada Tenun Ikat Tanimbar terdapat banyak corak atau motif yang menurut masyarakat setempat mengandung nilai-nilai adat dan bermakna luhur yang menunjukkan jati diri masyarakat Tanimbar. Tenun ikat Tanimbar hingga kini paling tidak memiliki 47 motif. Di antaranya adaah motif sair, motif bunga anggrek, motif tunis, dan motif bulan sabit.
Tak hanya digunakan sebagai kebutuhan sandang. Tenun ikat Tanimbar juga dimaknai sebagai amanah dalam upacara adat, misalnya upacara pernikahan. Seiring berkembangnya zaman, tenun ikat Tanimbar juga digunakan dalam acara-acara pemerintahan, seperti penjemputan tamu, tarian, hadiah untuk tamu berkunjung, dan lainnya.
Tenun Gringsing
Kain gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki tenun gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus.
Kata gringsing sendiri berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung dalam kata tersebut, yakni menyerupai penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain dilakukan menggunakan kain gringsing.
Tenun Dayak
Motif kain tenun khas masyarakat Dayak di Kalimantan memang sangat cantik dan begitu populer. Rata-rata gambar dalam tenunan Dayak meruapakan ruang lingkup kehidupan manusia, namun tetap ada hubungannya dengan manusia, alam atas, dan alam bawah. Juga dengan alam sekitar, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.
Mengenai pola dasar gambar atau lukisan di kain tenun, dibuat berdasarkan tingkatan umur. Para gadis biasa belajar dari usia belasan tahun atau jelang akil baligh. Pola tenun yang paling sederhana yang diajarkan untuk anak gadis adalah gambar pakis.
Kemudian, rata-rata yang boleh menggambar berbentuk naga atau dewa adalah mereka yang sudah cukup umur, yakni 40-50 tahun ke atas. Karena dikhawatirkan bagi anak gadis jika membuat pola-pola gambar naga dan dewa tetapi jiwa mereka belum kuat bisa menjadi gila, sakit, hingga meninggal dunia.