Hasil penelitian menunjukkan bahwa sedikitnya di atas separuh (51,4 persen), adalah mereka yang memiliki tingkat addicted dengan minuman berenergi yang cukup tinggi. Kebiasaan tersebut berlangsung lama bahkan akan terus dilakukan. Kelompok lain ada di kelompok menengah atau sekitar 17,4 persen. Ini berarti mereka tetap berisiko menggunakan kokain setelah mengkonsumsi minuman berenergi tinggi.
Fakta tersebut sebanding dengan mereka yang tidak menggunakan minuman berkafein sama sekali. Kelompok ini jumlahnya lebih banyak dari kelompok menengah, yaitu sekitar 20,6 persen.
Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa mereka yang tidak mengonsumsi minuman berenergi tidak berisiko lebih besar terhadap penyalahgunaan obat-obatan terlarang di kemudian hari.
Namun penelitian tersebut tidak dapat menemukan alasan yang menghubungkan kedua kejadian tersebut. Beberapa penjelasan yang mungkin bisa dikaitkan adalah mereka yang mengkonsumsi lebih banyak minuman energi bisa menjadi orang yang mengalah pada tekanan teman sebaya atau mungkin orang-orang yang memiliki perilaku berisiko tinggi. Selain itu, mungkin perubahan di otak karena minuman stimulan berkafein ini bisa menjadi alasan hubungan di antara kedua hal tersebut.
Yang mengkhawatirkan para periset adalah kenyataan bahwa hanya ada sedikit atau tidak ada intervensi dan regulasi dalam hal kandungan kafein dari minuman energi ini. Para ahli merasa bahwa Food and Drug Administration (FDA) perlu memberlakukan pembatasan kafein terhadap produk ini. Informasi lebih lanjut dan peringatan harus tersedia bagi generasi muda.
(Helmi Ade Saputra)