OKB sendiri adalah sebuah lompatan besar terapi antikoagulan yang bukan saja efektif tetapi menyelesaikan permasalahan risiko pendarahan, reaksi silang antar obat, dosis-efek yang sulit diprediksi, dan pengaruh makanan terhadap ansorbsi obat dari antikoagulan oral klasik warfarin.
Kemudian, untuk pengobatan cara kedua adalah elektroterapi. Nah, untuk cara ini, Prof Yoga membaginya dalam 3 kelomopol berbeda. Yang pertama adalah DC Kardioversi. Indikasi dari tindakan ini adalah takiaritmia dengan mekanisme dasarnya berupa proses reentrant. "Terapi jenis ini memiliki efektifitas yang lebih tinggi daripada terapindengan agen antiaritmia," terang Prof. Yoga saat ditemui di RS Jantung Harapan Kita, Jumat (11/8/2017).
(Baca Juga: Waspada, Ternyata Jantung Bisa Menua dan Fatal Akibatnya!)
Prof Yoga melanjutkan, cara kedua dari Eletroterapi adalah dengan penggunaan alat Kardioversi-defibrilasi tertanam (DKI). Cara ini, sambung dia, cukup cocok dengan pasien berisiko ventrikel aritmia fatal. Sebab, alat ini dapat mengidentifikasi dan pemasangan defibrillator kardioverter implant (DKI) pun diyakini bisa menurunkan risiko.
Dijelaskan Prof Yoga, alat ini merupakan sebuah modalitas elektroterapi yang menggunakan alat tertanam pada tubuh dan berfungsi untuk memonitor dan menghantarkan arus kardioversi secara otomatis bila terdeteksi adanya aritmia.