MELIHAT tampilannya mungkin akan mengingatkan Anda pada bolu gula merah atau bolu sarang semut yang tidak asing di negeri kita. Tapi tahukah Anda bahwa makanan ini bukan dipanggang dengan oven atau dikukus. Masyarakat Islandia mengubur roti musim panas dalam pasir dan memastikannya matang hingga nikmat disantap bersama potongan ikan salmon dan butter.
Ya, tentu saja bukan sembarang pasir yang bisa mematangkan makanan dengan sempurna. Tapi di Islandia tidak sulit menemukan jenis pasir ini, bahkan sangat mudah. Karena Islandia mengharuskan masyarakatnya bekerjasama dengan kondisi alam untuk bertahan hidup, memanggang roti atau makanan apapun dalam pasir adalah salah satunya.
Islandia adalah sebuah negara Nordik yang terletak di sebelah barat laut Eropa dan sebelah utara Samudera Atlantik (Wikipedia). Sebuah negara dengan keadaan geografis terdiri dari bebatuan dan tebing-tebing yang tidak pernah berhenti diselimuti kabut. Namun di sisi lain juga memiliki gletser atau glasier, bongkahan es batu yang tercipta akibat endapan salju. Tidak hanya itu, Islandia memiliki banyak geiser atau sumber air panas di dalam perut buminya, yang menyeruak dari dalam tanah dan pasir berupa gelembung-gelembung air panas.
Dengan kondisi seperti ini, masyarakat Islandia harus berkompromi dengan kekuatan alam demi bertahan hidup. Salah satunya untuk urusan perut, di satu sisi kondisi alam ini sangat menguntungkan, karena tidak perlu api atau gas untuk menyalakan kompor, maka makanan orang Islandia dimasak dari dalam bumi itu sendiri.
Ikon Nasional
Di sebuah pinggir danau di kota kecil Laugavautn, pemilik pemandian air panas Laugavatn Fontana, Sigurður Rafn Hilmarsson, memiliki roti yang telah menjadi ikon nasional Negara Islandia. Disuguhkan kepada setiap pengunjung pemandian air panas, termasuk kepada Presiden Islandia, Guðni Thorlacius Jóhannesson, yang beberapa waktu lalu mengunjungi destinasi wisata tersebut.
Bukan hanya karena rasanya yang unik, yang membuat roti dari gandum hitam ini begitu terkenal adalah dari bagaimana cara ia dipanggang.
Hilmarsson mengatakan, rúgbrauð-nama asli roti ini, roti dipanggang di bawah tanah, dikubur di lubang panas dari bumi yang menggelegak mengeluarkan hawa panas dan mematangkan roti itu sendiri.
Soal rasanya, Hilmarsson mengatakan, " Ini memiliki sedikit gula di dalamnya daripada kue-kue kebanyakan."
Ya dengan kondisi alam seperti yang disebutkan di atas, maka tidak mengherankan jika tanah tempat masyarakat Islandia berpijak juga adalah kompor bagi masakannya.
Untuk memanggang kue tersebut, Hilmarsson cukup menggali pasir di ladang yang ia sebut sebagai area panggangan raksasa.
Pasir digali sedalam sekira 30 cm, dengan lebar sebesar dandang yang ia gunakan untuk menaruh adonan roti. Setelah kedalaman cukup sampai menemukan sumber air panas yang meletup-letup, maka di situlah ia akan memanggang kuenya.
Dandang yang sudah berisi adonan kemudian dimasukkan ke dalam galian dengan sebelumnya sudah ditutup rapat. Galian kembali ditutup dengan pasir yang panas dan dibuat gundukan. Tidak lupa di bagian atas diberi batu penanda.
"Banyak orang yang masih memanggang dengan cara ini di Laugavautn. Dalam tradisinya kami akan meletakkan batu di bagian atas gundukan sebagai penanda agar orang lain tahu bahwa kita sedang memanggang di tanah ini," beber Hilmarsson.
Tradisi-